Kaca Sanesipun

Kamis, 11 Agustus 2011

Eksotisme Malioboro Malam Hari, Kenangan Tak Terlupakan

Sering kita mendengar ungkapan bahwa "Saya sudah bosan ke Jogjakarta. Isinya hanya Malioboro saja." Ungkapan ini boleh jadi benar karena yang ada dan identik dengan Jogja adalah Malioboro, sebuah kawasan yang sebenarnya merupakan nama jalan yang membentang terus dari Stasiun Tugu Jogjakarta (sebelum Pasar Klitikan pindah, zona Malioboro masih boleh dikatakan mulai dari Tugu Jogja) ke selatan terus melewati Jalan Malioboro hingga Jl. A. Yani dan berakhir di perempatan Kilometer Nol, Jogjakarta. Bagi saya sendiri, eksotisme Malioboro takkan mudah pudar termakan waktu. Bahkan, ketika 3 tahun menempuh pendidikan di sebuah SMP di dekat Malioboro, dan boleh dikata tiap hari lewat tempat itu. Eksotisme itu seakan masih belum hilang.
Keindahan Malioboro boleh dikatakan mulai indah dipandang mata ketika malam hari mulai menyeruak daerah Malioboro. Biasanya terdapat beberapa pengamen jalanan yang siap menghibur para wisatawan. Salah satunya adalah seniman Thilung, atau sering disebut dengan Pethilan Calung yang menyanyikan lagu-lagu masa kini nan asyik. Biasanya, wisatawan dapat melepaskan lelah setelah jalan-jalan di sekitar Malioboro dan kemudian duduk di dekat seniman Thilung yang biasa mangkal di depan Mall Malioboro dan Batik Margaria ini. Berbagai warung kaki lima di sepanjang Jalan malioboro pun boleh diuji rasanya. Hanya saja saya memang kurang menyarankan untuk makan di warung tenda sepanjang Malioboro karena dari beberapa referensi wisatawan luar kota banyak yang dipukul dengan harga yang sangat mahal. Juga belum afdol ketika belum mencicipi sate lemak Beringharjo yang mulai buka pada sore hari.
Maka, tak salahlah pula jika Malioboro, menjadi tempat yang nyaman dan indah jika dikunjungi pada malam hari, berbaur dengan keringat pedagang sepanjang jalan, dan duduk sembari menikmati seni jalanan dan indahnya suasana malam di Jogjakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar