Kaca Sanesipun

Rabu, 17 April 2013

Pacitan: Pesona yang Tertunda (Part 2: Sekilas Kota Pacitan)

Halooo halooo..bagaimana mimpi Anda semalam? Sudahkah Anda mimpi-mimpiin tentang jalur menuju Pacitan seperti yang saya ceritakan? Kalau Anda sudah mimpi tentang jalur tersebut, berarti sebentar lagi Anda akan benar-benar menuju ke Pacitan (ah masak iya -____-)

Kali ini, mungkin di tulisan yang pendek ini, saya akan secara khusus membahas Kota Pacitan. Spesifiknya mengenai penginapan dan akomodasi, beberapa objek di kota, dan karakteristik penduduk Pacitan. Makanya, boleh dibilang tulisan ini sedikit kurang menarik bila dibandingkan tulisan yang sebelum ini atau yang setelah ini (coming soon coy). Selamat menyimak.

Kota Pacitan

Kota Pacitan. Kenapa Kota Pacitan? Kok nggak kabupaten? Secara khusus saya akan membahas Kota Pacitan. Karena...pusat segala kegiatan akan berada di kota. Menginap, makan malam, cari hiburan, sudah pasti akan di kota Pacitan. Kenapa kok nggak di kabupaten? Meskipun di kabupaten juga tersedia tempat menginap, namun tempatnya sangat terbatas. Dan seperti yang telah sudah dibahas di tulisan sebelumnya, Pacitan didominasi daerah bergunung-gunung. Sehingga, bisa dimungkinkan kalau menginap di daerah kabupaten jarak tempuh ke obyek wisata yang menarik akan lebih jauh daripada menginap di kota. Di kota ada banyak sekali kegiatan yang cukup menjanjikan: kuliner yang cukup beragam, penginapan dengan harga yang beragam dan fasilitas beragam, dan tentunya lebih dekat kalau ingin ke SPBU.
Kota Pacitan sendiri bukanlah sebuah kota yang besar seperti Solo, Jogja, atau bahkan Madiun. Jalannya pun juga kecil-kecil. Mungkin cukup untuk berpapasan 2 mobil tanpa berjalan pelan-pelan. Kotanya cukup rindang karena hijau pepohonan di pinggir jalan. Bagi Anda yang terbiasa berorientasi dengan arah mata angin untuk bepergian, mungkin akan sedikit bingung jika berada di Kota Pacitan karena karakteristik jalan yang menuju ke satu arah dan tiba-tiba berbelok jadi mengacaukan orientasi arah. 
Seperti biasanya, semua sistem pemerintahan Pacitan berpusat di daerah Alun-Alun Pacitan. Samsat dan lain sebagainya juga terletak di dekat Alun-Alun. Pusat kota Pacitan sama dengan kota-kota yang lain: berpusat di Jalan Ahmad Yani (coba perhatikan kota-kota di Jawa, sebagian besar pusatnya di Jl A Yani, atau minimal Jl A Yani menjadi pusat keramaian). Di Jalan A Yani cukup banyak ditemukan hotel dan beberapa Indomaret yang buka hingga tengah malam. Beberapa ATM juga dapat ditemui di Jl A Yani ini. Alun-Alun pun juga terletak sejajar di Jl A Yani. SPBU terdekat yang saya temukan berada di jalur antara kota dan Pantai Teleng Ria (ke arah barat keluar kota) dan di dermaga perikanan (khusus kapal). Mungkin ada SPBU yang lainnya di daerah perkotaan, namun saya juga kurang tahu.
Kota Pacitan bagian selatan ini berbatasan langsung dengan Teluk Pacitan. Untuk mengunjungi tempat tersebut, Anda bisa memilih untuk pergi ke Teleng Ria (ini pantai yang cukup terkenal di Pacitan dan akan dibahas di part selanjutnya), ke Pancer (ini bumi perkemahan, ada beberapa hotel dan homestay murah disana), atau ke dermaga perikanan. Sedangkan kalau dari kota ini mengambil jalur terus ke arah barat, Anda akan menuju daerah Punung hingga Baturetno, Wonogiri. Ke arah utara, Anda akan menuju Sedeng, selanjutnya menuju ke Baturetno, Wonogiri. Ke arah timur serong utara menuju arah Ponorogo lewat Gemaharjo, dan ke arah timur lewat pinggir pantai Anda akan menuju ke Trenggalek.
Karakteristik orang Pacitan ini khas orang-orang pegunungan selatan: ramah, murah senyum, halus. Ketika Anda pernah pergi ke Solo atau Jogja, maka Anda akan menemukan karakteristik orang Pacitan yang hampir mirip-mirip dengan orang-orang Solo-Jogja (mungkin kaitannya juga kesenangan orang Pacitan yang pelesiran di daerah Solo-Jogja karena masih dekat dan ada banyak juga orang Jogja yang merantau ke Pacitan dan sebaliknya). Kalau orang Surabaya bilang, karakteristik orang-orang seperti ini disebut sebagai karakter orang 'Kulonan'. Maksudnya adalah Jawa Timur bagian Barat seperti Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo. Jawa Timur bagian barat ini disebut sebagai Mataraman. Karakteristik orangnya hampir sama dan jauh dari kesan 'kereng'. Beda cukup jauh dengan di Surabaya yang sangar-sangar karakter orangnya. Di daerah desa-desa (destinasi wisata di Pacitan pasti melewati desa-desa) orangnya jauh lebih ramah-ramah lagi. Mayoritas lebih suka diajak berbicara dengan bahasa Jawa, apalagi dengan bahasa Jawa krama. Namun, dengan bahasa Indonesia saja, mereka sudah sangat 'welcome'. Penduduk sekitar obyek wisata juga sangat ramah kepada pengunjung. Ibaratnya, pengunjung adalah keluarga baru. Dengan sekedar membuka kaca dan tersenyum kepada mereka saja, meskipun jaraknya cukup jauh, mereka juga akan membalas dengan senyum dan kadang disertai sapaan -benar-benar beda jauh dengan di kota. Jadi, apapun kebutuhan Anda, selama warga dapat menyediakan maka Anda juga akan dibantu. Jangan segan-segan bertanya kepada warga sekitar jika Anda tersesat, karena GPS akan susah menjangkau dan mengidentifikasi daerah yang Anda lewati selama perjalanan menuju ke obyek wisata (medan bergunung-gunung, kadang serasa hilang di tengah hutan belantara).

Penginapan dan Akomodasi

Anda bingung dengan penginapan di Pacitan? Tidak perlu bingung mencari. Tidak perlu bingung masalah budget. Anda tinggal memilih lokasi saja, maka semuanya akan tersedia. Saya sangat menyarankan untuk menginap di Kota Pacitan. Selain karena akses kemana-mana mudah (ke terminal, lokasi belanja, Indomaret, atau SPBU), di Kota Anda juga bisa lebih leluasa menuju ke obyek wisata karena rata-rata obyek wisata berada di daerah Kabupaten Pacitan bagian barat. Atau kalau Anda ingin suasana pantai, Anda bisa menginap di Teleng Ria atau di Pancer.
Ketika Anda memutuskan untuk menginap di Kota, maka akan ada banyak sekali pilihan di tengah kota. Hampir semua hotel berpusat di Jalan A Yani dan di sekitar Alun-Alun. Ratenya bervariasi. Ada yang mulai Rp 175000 hingga Rp 375000 dengan fasilitas mulai dari hanya kamar+fan hingga kamar ber-AC+breakfast. Kalau Anda memilih sedikit menyingkir dari Alun-Alun, ada Guest House Alloro. Saya pernah mencoba tempat ini (di kali pertama saya ke Pacitan menginap) dan cukup merekomendasikan tempat ini. Kamar termurah Rp 175000 sudah dapat fasilitas kamar ber-AC, TV LCD, WiFi, dan kamar mandi luar dengan air panas atau air dingin. Tidak mendapatkan fasilitas breakfast. Dan yang bikin lebih enak lagi, 1 kamar boleh dipakai berlima (meskipun ada yang klesetan di bawah pake sleeping bag).
Pantai juga menjadi alternatif yang baik bagi tempat menginap Anda. Di Pancer (timur Teleng Ria, Bumi Perkemahan) ada cukup banyak homestay yang menawarkan biaya yang sangat minim. Per kamar dipatok hanya Rp 65000 hingga Rp 110000 per hari dengan fasilitas fan, breakfast, dan beberapa ada yang kamar mandi dalam. Di Teleng Ria pun Anda dapat menginap di beberapa homestay atau hotel yang ada disana. Tarifnya tidak jauh beda dengan tempat-tempat lainnya. Namun, kelemahannya ketika Anda akan menginap di Teleng Ria maupun Pancer, Anda harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan angkutan umum jika tidak membawa kendaraan sendiri. Dulu di Teleng Ria ada angkudes dan bus Pacitan-Jogja yang masuk ke terminal di dalam pantai tersebut. Tapi, sepertinya sekarang sudah jarang.
Anda bingung akomodasi? Saya sarankan untuk tidak memanfaatkan angkutan pedesaan yang ada di Pacitan karena akan cukup menyusahkan Anda untuk menuju lokasi wisata yang terpencil (tempat wisata yang bagus-bagus itu lokasinya sedikit terpencil). Saya sarankan untuk menyewa kendaraan saja. Dimana Anda bisa menyewa kendaraan bermotor? Cukup bilang ke resepsionis homestay atau hotel, maka akan disediakan. Biayanya tidak mahal. Untuk mobil, rate terbaru yang saya dapatkan sekitar Rp 150000-200000 untuk pemakaian selama satu hari belum termasuk bensin. Sepeda motor dibawah Rp 100000. Jika sudah dapat kendaraan, saya sarankan untuk mengisi bensin Rp 100.000 untuk mobil (sudah bisa untuk mengunjungi Goa Tabuhan-Goa Gong-Pantai Klayar-Pantai Srau-Pantai Watu Karung-Pantai Teleng Ria-Putar-putar kota). Atau kalau sepeda motor bisa diisi fulltank.

Apa yang Bisa Dikunjungi di Kota?

Seperti yang sudah saya tulis diatas, Anda bisa mengunjungi beberapa tempat di kota, salah satunya Alun-Alun Pacitan. di Alun-Alun ini terdapat becak berwarna-warni yang bisa Anda sewa untuk mengelilingi alun-alun. Selain itu, beberapa kuliner sederhana khas Pacitan juga tersedia di alun-alun. Salah satunya adalah Thetel Bakar. Thetel (atau gimana cara menulisnya) kalau di Jogja lebih dikenal sebagai jadah ketan. Bedanya, kalau di Pacitan, jadah ini dibakar dan diberikan bumbu asam-manis yang menggoda lidah (sayang tidak ada fotonya, monggo bisa search di google dengan kata kunci tetel bakar pacitan. Mungkin baru tulisan part 3 yang bakal ada fotonya). Jika Anda cukup beruntung, biasanya di Alun-alun digelar pertunjukan. Pertunjukan biasanya digelar ketika weekend atau ketika ada event tertentu. Kebetulan ketika berkunjung kesana, ada festival band. Namun, sayangnya festival band sudah bubar jam 22 -___-
Atau Anda bisa pergi ke Pasar Minulyo Pacitan. Bukan pasar biasa! Ini pasar istimewa. Baru saja diresmikan oleh Ibas, putra presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono yang asli Pacitan beberapa bulan lalu. Ketika Anda berpikiran pasar ini pasti jorok, buang jauh pemikiran Anda. Pasar ini memang terletak di samping terminal bus Pacitan. Ketika Anda pernah pergi ke daerah Pasar Agro Pasuruan, maka lebih kurang seperti itulah tempatnya. Bangunan baru, rapi, tertata, dan hidup bahkan sampai malam hari. Anda bisa memanfaatkan pasar ini untuk mencari sarapan atau makan malam. Ada beberapa orang Lamongan yang berjualan penyetan lele di dalam pasar ini ketika malam menjelang. Atau ketika Anda ingin ikan-ikan laut fresh, Anda bisa pergi ke Teleng Ria dan ke pasar ikan untuk membeli ikan goreng kiloan. Terakhir saya kesana, udang goreng renyah Rp 15000/kg, wader laut Rp 15000/kg, dan ikan mix (Tuna, Kakap, Hiu) Rp 25000 cukup untuk makan kenyang orang 6. Pasar ini mulai buka pukul 06.30 dan akan mulai tutup pukul 17.00.

Yakk, dan berakhirlah part 2 ini. Mohon maaf tidak sempat berfoto-foto di spot-spot tersebut. Nantikan selalu part 3. Jauh lebih menarik. Ada foto-fotonya. Selamat berandai-andai dulu :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar