Kaca Sanesipun

Senin, 03 Maret 2014

8 Hari Mencari Jati Diri: Sedikit Plesir di Samosir (Part 6)

Pukul 01.40 saya terpaksa terbangun karena bis mengerem mendadak dan berkali-kali banting stir kanan-kiri yang saya yakin bis sedang melewati banyak tikungan patah. Ketika saya membuka mata, pemandangan wow segera nampak di jendela kanan: Danau Toba dengan pantulan cahaya bulan yang terang karena kebetulan bulan bersinar terang dan lampu-lampu rumah yang memanjang di sepanjang tepi danau. Pemandangan yang sangat sejuk dan romantis di malam hari itu. Sayangnya.....ah sudahlah....
Saya terpaksa terjaga karena Bang Tabis mengingatkan bahwa bis sudah akan masuk Parapat. Tak lama kemudian bis berhenti di pemberhentian di Parapat. Kami kemudian berjalan menyusuri Parapat yang sepi. Meskipun Parapat terletak di poros utama jalur Pematang Siantar-Bukittinggi, tapi tetap saja jalannya sepi. Hanya beberapa truk dan mobil pribadi yang lewat. Bang Tabis mabuk karena semalaman belum makan nasi. Saya mengantarkannya ke warung Muslim yang ada disitu. Kebetulan di Parapat ini ada banyak sekali warung Muslim, beberapa yang jualan orang keturunan Jawa. Kalau sudah di Samosir, sangat sulit sekali cari makanan halal. Bang Tabis makan dengan lahap, sementara saya Cuma minum teh susu karena tidak lapar.
Pukul 03.00 kami sudah selesai makan. Kami bingung mencari tempat untuk istirahat karena pukul 06.00 kami sudah harus berangkat ke pelabuhan. Kalau menginap 3 jam di hotel, semurah apapun itu, pasti akan rugi karena hotel termurah di Parapat Rp 100.000. Akhirnya kami sepakat untuk tidur di Galon (pom bensin). Ini kali kesekian saya tidur di pom bensin. Kami berjalan ke arah pom bensin yang berada persis di tengah-tengah kota Parapat. Pom bensin sepi, tapi ada 4 mobil yang pengemudinya numpang tidur disitu, lengkap dengan 2 penjaga pom dan 1 orang gila yang nyerocos sendiri. Kami memilih tempat tidur di belakang ATM, tepatnya di seberang orang gila tadi. Kami segera ambil posisi tidur yang enak. Saya hanya mengenakan jaket dan penutup kepala, sementara Bang Tabis membawa sleeping bag. Sebenarnya enak pakai sleeping bag, tapi karena tidak memungkinkan, saya tidur seadanya berbantalkan tas. Bang Tabis bisa tidur nyenyak, sementara saya harus beberapa kali terbangun karena hawa dingin yang sangat menusuk: mirip seperti di Ranu Kumbolo. 
Pukul 05.55 saya sudah terbangun dan membangunkan Bang Tabis untuk bersiap-siap jalan ke pelabuhan. Walaupun sudah hampir jam 6 pagi, tapi kondisi masih sangat gelap dan tidak ada tanda-tanda matahari terbit. Kami berjalan menuju ke pelabuhan-pelabuhan kecil di tepi danau. Pilihan kami jatuh ke Pelabuhan Tiga Raksa, pelabuhan yang cukup terkenal dan terpercaya untuk penyeberangan Parapat-Samosir selain Pelabuhan Ajibata yang melayani mobil-mobil, truk, dan bis. Di jalan, kami menemukan pos polisi dalam keadaan terbuka dan sedikit tertutup. Sebenarnya lebih mending menginap disitu. Awalnya kami akan numpang menginap di Masjid, tapi ternyata Masjidnya dikunci pagarnya.
Salah satu bagian dari Rumah Bung Karno di Parapat

Kami berjalan terus menuju ke pelabuhan. Perlahan-lahan hari semakin menjadi terang. Saya mampir ke toko oleh-oleh dulu beli kain Ulos 3 jari sebagai oleh-oleh. Setelah itu, perjalanan berlanjut ke pelabuhan.
Setibanya di pelabuhan, keberangkatan kapal ternyata masih pukul 07.30. Ada waktu 1 jam bagi kami untuk istirahat. Kami memilih singgah di warung yang ada di dekat pelabuhan dan meminum teh hangat. Setelah warung buka penuh, ternyata ada mie yang dijual. Ternyata, mie yang dijual tersebut adalah Mie Gomak, salah satu makanan khas daerah Parapat dan Samosir: mie yang digoreng biasa dengan bumbu bawang-merica, kemudian disiram dengan kuah santan. Rasanya? Jangan ditanyakan lagi. Lucu sekali, campur aduk. Asin, asam, manis, gurih, kecut campur jadi satu. Harganya murah untuk 1 gelas teh hangat, 1 gelas air putih, dan 1 porsi mie Gomak hanya dihargai Rp 7.000.
Penampakan Mie Gomak, mie besar-besar berpenampang kotak, lengkap dengan kuah santan yang ada jipangnya, oseng-oseng kacang panjang-wortel, dan lengkap dengan telur rebus bersama sambel yang pedesnya bikin mules

Pukul 07.10 kapal sudah siap. Kapal KM Lopo Parindo mulai menaikkan barang-barang ke atas kapal, diantaranya sepeda motor. Ada cukup banyak sepeda motor yang dinaikkan ke kapal. Sepeda motor tersebut adalah sepeda motor guru-guru yang mengajar di Samosir. Mereka rata-rata berasal dari Parapat.
Fajar menyingsing di Parapat

Pukul 07.20 kapal sudah diberangkatkan. Masih sangat pagi, kabut masih menyelimuti Parapat. Kami duduk di dek atas bersama guru-guru tadi. Guru-guru tadi bercanda dengan menggunakan bahasa Batak yang khas, kadang diselingi dengan bahasa Indonesia dengan logat yang lucu dan membuat kami yang duduk di dek atas tertawa.
Dermaga KM Lopo Parindo Tiga Raja

Perjalanan selama 30 menit tidak terasa. Hampir pukul 8 kapal sudah merapat di Pelabuhan Tomok. Tidak terasa karena kebetulan ombak di danau tenang, tidak ada angin besar juga. Kami bergegas turun dari kapal. Selepas turun dari kapal, kami ditawari oleh persewaan sepeda motor. Sesuai target, Rp 100.000 untuk seharian penuh, tidak termasuk bensin. Tarif yang masih sama dengan yang ditulis kawan-kawan backpacker di blog masing-masing. Karena saya merasa tidak cukup kalau ke Samosir Cuma jalan-jalan di Tomok dan Tuktuk, maka saya menyewa sepeda motor tersebut. Nama pemilik sepeda motor ternyata adalah Pak Panjaitan. Beliau sangat baik. “Pakai saja sampai nanti sore tidak apa-apa, kapal terakhir berangkat jam 19 malam.” Kata beliau.
Motor Jupiter Z yang diberikan ke saya langsung saya pacu bersama Bang Tabis menyusuri jalanan sepanjang Pulau Samosir. Kami terus menuju ke ujung barat Pulau Samosir: Kecamatan Pangururan. Masih sama, semua pengemudi motor disini berjalan dengan kencang. Tapi saya pilih pelan-pelan karena ada banyak anjing yang tiba-tiba berseliweran. Sembari menikmati pemandangan Samosir pagi hari yang teramat sangat indah dan seuk bagi saya. Makam besar ada dimana-mana, bukan Cuma makan dengan nisan biasa. Tapi makan yang kemudian dibuat bangunan dan dibentuk macam-macam. Kesan mistisnya Samosir pagi itu sangat terasa.
Karena hanya diberi 1 helm, dan katanya Pak Panjaitan tidak akan kenapa-kenapa, maka kami nekat saja menuju ke Pangururan. Setidaknya ada 3 spot terkenal di Samosir: Tomok, Tuktuk, Pangururan. Tomok sebagai pelabuhan utama di Samosir dari Parapat, Tuktuk sebagai sentra wisatawan, dan Pangururan sebagai pusat keramaian warga. Cukup jauh jarak dari Tomok ke Pangururan, sekitar 36 km. Hampir Jogja-Muntilan. Tapi jalanan benar-benar sepi dan mulus. Ditambah rumah-rumah adat Batak yang berjejer rapi di kanan kiri jalan menambah suasana bertambah B3, Benar-Benar Batak.
 Pintu Gerbang Kecamatan Pangururan. Pangururan ini adalah pusat keramaian paling ramai dari Samosir

 Petunjuk menuju Tao (Danau) Sidihoni

Setibanya di Pangururan, masih sekitar pukul 9, kami memutuskan untuk mengunjungi danau unik. Danau Sidihoni. Lho, kok danau? Bukannya Cuma Danau Toba aja? Weitssss, jangan salah. Di atas danau toba, ada juga danau. Jadi ceritanya danau di atas danau yang terletak pada gunung di atas gunung. Tidak begitu jauh dari Pangururan, mungkin sekitar 10 km. Dengan jalan yang menanjak, berkelok, rumah yang jarang-jarang, dan rumput dimana-mana. Lalu setelah tikungan dan tanjakan, terlihatlah sebuah padang rumput hijau dengan danau di tengahnya. Kalau saya bilang, sangat mirip dengan Ranu Pane, tapi lebih bersih Sidihoni. Bak menemukan surga, karena sangking indahnya, kami berfoto-foto. Sementara saya tidur di rerumputan menghijau. Ada cukup beberapa kerbau yang sengaja dilepas pemiliknya untuk cari makan di danau ini.
Danau Sidihoni dari padang rumput

Setelah cukup puas dan karena matahari semakin bersinar terik, kami segera beranjak dari danau ini kembali ke Pangururan. Setibanya di Pangururan, saya memutuskan ingin melihat terusan yang dibangun oleh Belanda. Seperti yang kita ketahui, di sebelah barat, ada bagian pulau Samosir yang tersambung dengan daratan Sumatera Utara. Nah, di daratan ini kemudian dibuat terusan untuk lewat kapal-kapal kecil.
Danau Toba dari sisi Samosir yang menyatu dengan daratan, view dari jalur Pangururan-Sidihoni

Kami ingin meneruskan perjalanan ke Tele dan Air Terjun Efrata (Air terjun yang airnya rasa jeruk, serius). Namun karena takut kesorean, tele berjarak sekitar 15 km dari Pangururan dan air terjun efrata terletak sekitar 20 km dari Pangururan, maka kami memutuskan untuk kembali ke Tomok dan mampir ke Pantai Pasir Putih. Pantai Pasir Putih sendiri terletak diantara jalan Pangururan-Tuktuk-Tomok. Karena ngantuk, saya mengemudikan jupiter z ini seperti biasa kalau di Jawa. Bang Tabis cukup takut rupanya dengan cara nyetir saya yang nempel abis sama kendaraan di depan.
Tidak beberapa lama, kami tiba di Pantai Pasir Putih yang bernama Pantai Parbaba. Bagus sih viewnya, pasirnya juga benar-benar putih. Tapi sayangnya rumah makan-rumah makan terlalu menjorok ke danau. Jadi kesannya kotor. Meskipun biaya masuk hari biasa adalah gratis, tapi saya tetap menyarankan untuk ke pantai pasir putih yang sebelum pantai Parbaba kalau dari Pangururan. Lebih steril dari toko-toko, lebih bagus viewnya, lebih enak untuk bersantai.
 Pantai Pasir Putih Parbaba. Beneran putih pasirnya dan mirip dengan Pantai Pasir Putih Situbondo

 Rumah adat Batak berjejer di pintu masuk Pantai Parbaba

 Gereja di sudut jalan. Gereja disini bagus-bagus, meskipun tanpa AC seperti di Jakarta atau Surabaya

 Salah satu contoh makam Batak. Megah sekali karena mereka sangat menghargai leluhurnya. Ibaratnya leluhurnya telah melakukan hal dan merawat keluarganya sebaik-baiknya, maka perlakukanlah aku sebaik-baiknya pula jika aku telah meninggal. Bentuk makam seperti ini tersebar rata di Pulau Samosir dan bentuknya bagus-bagus. Sehingga tidak ada kesan wingit atau angker.

 Selamat datang di Ambarita. Konon kabarnya, dulu di Ambarita ada peristiwa berdarah mirip di Sampit

 Kami tidak lama-lama di Parbaba. Kami segera melanjutkan perjalanan. Pelan-pelan lagi, karena jujur saya ngantuk sekali karena semalam nggak tidur. Cuma tidur sebentar, di kapal juga sempat tidur sebentar. Karena lapar, saya ingin makan menu spesial: BPK sesuai saran Bang Roy di Sibolangit. Sebenarnya di jalan antara Pangururan-Parbaba banyak yang jualan BPK, berjejere malahan. Tapi karena belum lapar, saya memutuskan makan BPK di jalan antara Parbaba-Tomok.
View di depan warung BPK

Jauh setelah melewati sudut Pulau Samosir bagian timur, saya menemukan warung BPK yang agak besar, di tengah sawah, dengan view yang wow. Akhirnya saya menghentikan laju sepeda motor dan mampir ke warung tersebut. Hanya saya yang makan, Bang Tabis tidak makan. Saya kira hanya babi panggang seperti biasa saya beli di Pasar Patuk Jogja. Tapi ternyata spesial sekali: babi panggang, kuah kaldu iga babi, sayur sejenis daun ketela tapi bukan ketela, sambal khas mirip petis, dan sudah tentu nasi putih lengkap dengan air putih sewadah yang bebas ambil. Daging babinya khas, tidak seperti di Jawa karena daging babi di Samosir rata-rata adalah daging babi hutan yang sengaja dipelihara oleh warga (babi jadi peliharaan selain anjing), sehingga lemaknya tidak setebal babi yang warnanya pink. Semuanya cukup ditebus dengan Rp 17.000. Seusai makan, kami sedikit bersantai di warung sembari menonton TV yang distel oleh pemilik warung sembari mengobrol dengan pemilik warung. Lagi-lagi pemilik warung juga familiar dengan Jogja karena dulu pernah kesana. Sudah 5 orang rupanya.
Satu set Babi Panggang Karo (BPK) yang tersaji lengkap. Tentunya dengan air putih gratis

Setelah cukup melepas lelah, dan waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, kami segera beranjak ke Tuktuk. Di jalan, kami menemui anak-anak pulang sekolah. Ternyata benar, mereka lebih senang naik ke atap bis. Bahkan tidak Cuma satu dua, tapi ada sekitar 10 anak bersantai di atas bis sembari menyapa-nyapa kami dengan bahasa Batak.
Anak-anak yang naik armada Sampri lebih suka naik ke atap bis, padahal kabin masih lumayan kosong

Tak beberapa lama kemudian kami tiba di Tuktuk. Tidak ada yang dilihat dan dimakan. Kami hanya melihat-lihat hotel. Cari makan disini hampir sama artinya dengan bunuh diri, harganya rata-rata diatas Rp 30.000. Hotel-hotel disini harganya murah-murah. Diantaranya Lekjon Cottage yang hanya memasang harga Rp 150.000 dengan view yang sangat bagus dan breakfast. Hotel Samosir pun memasang harga Rp 200.000, tapi viewnya masih kalah sama Lekjon. Kalau ingin harga yang murah sekali, bisa menginap di Hotel Liberta yang terletak tidak jauh dari gerbang masuk Tuktuk. Hotel Liberta hanya mematok tarif Rp 60.000 karena memang hotel ini adalah hotel untuk backpacker. Banyak bule-bule menginap disini.
Pintu gerbang Selamat Datang di Tuktuk Siadong yang berhadapan langsung dengan gunung

Setelah selesai jalan-jalan di Tuktuk, kami beranjak ke Museum Batak, Makam Raja Sidabutar, dan Tarian Sigale-gale. Objek yang sangat menarik sebenarnya, tapi petunjuknya dan narasinya kurang. Seandainya ada guide lebih sip lagi. Tarian Sigale-gale kebetulan saat itu sedang tidak dimainkan. Bisa sebenarnya request, hanya dikenai tarif Rp 80.000 untuk sekali pertunjukan Sigale-gale. Sangat murah jika dibandingkan di Jawa-Bali-Lombok yang harus membayar sekian ratus ribu untuk sekali tarian.
Setelah puas berfoto-foto, kami berjalan di pusat oleh-oleh. Rupanya sedang sepi, jadi pedagang menjual dagangannya dengan sangat murah. Baju Toba saja Cuma RP 50.000. Tapi dompet saya kurang tertarik beli kaos. Dompet saya lebih tertarik beli gantungan kunci bagus yang Cuma Rp 2.000 dan beli ikan asin khas Toba, yang ikannya hanya ada di Danau Toba (yang kemudian di Jogja tak coba digoreng kering dan rasanya wow, gurih sekali!). Cuma Rp 10.000 saja sudah dapat 2 kantong plastik. Murah sekaleeee!
Kami kemudian kembali ke Tomok, sebelumnya mengantarkan Bang Tabis makan dulu di Warung Muslim. Meskipun judulnya Warung Muslim, tapi cukup meragukan karena masaknya di belakang. Kita tidak tahu bahan apa saja yang dimasukkan ke masakan. Sebaiknya, kalau memang tidak yakin akan kehalalan warung disana, mending bawa makanan dari Parapat meskipun makanan di Parapat mahalnya minta ampun pun pun. Atau sebagai alternatif, bisa juga makan di Tuktuk. Disana ada warung makan halal. Tapi ya harganya cukup mahal, tapi kalau diakumulasi hampir sama kalau mbontot dari Parapat.
Setelah selesai makan, kami menunggu kapal di dermaga Lopo Parindo. Ada banyak kapal berangkat dari Tomok sebenarnya. Tapi entah kenapa kapal Lopo Parindo ini nyaman sekali dan armadanya tiap jam selalu ada. Pukul 15.00 kami berangkat menuju ke Tiga Raja. Ombak dan angin sore itu cukup besar. Kapal sempat oleng berkali-kali. Ini tidak lucu seandainya kapal kandas di tengah danau yang dalamnya mencapai 800 meter ini. Kedalaman 5 meter saja saya sudah bingung bukan kepalang, ditambah ini kedalaman 800 meter. Untungnya nahkoda lumayan sip, dan kami tiba di Tiga Raja pukul 15.45. Kami berjalan kaki menuju jalan Parapat-Siantar untuk mencari bis atau angkutan yang membawa kami ke Medan. Sebenarnya saya ingin berangkat agak malam hari, karena angkutan sore-sore cukup sulit. Kami duduk di tepi jalan lumayan lama, sekitar 20 menit. Kami ditawari oleh tukang parkir di daerah tempat kami duduk untuk naik mobil koran. Mobil omprengan kalau di Jawa. Dia sejenis travel, pakai L300, tapi ngompreng di jalan. Karena tarifnya cocok, sama dengan naik bis, yaitu Rp 30.000, maka kami menyetujui. Tak beberapa lama kemudian, mobil koran yang bertuliskan Seputar Indonesia datang. Rupanya membawa penumpang dari Bukittinggi. Nah, persis di belakang mobil ini ada bis Sejahtera Parapat-Medan Amplas. Kami mau cancel juga sudah tidak enak, toh kami juga kejar waktu. Katanya, mobil koran ini kenceng jalannya. Kami langsung naik dan duduk di tengah. Ada sekeluarga yang turun di Morawa, dua orang pedagang mainan dari Dolok Sanggul yang turun di Siantar, dan seorang mahasiswi di depan sendiri dari Bukittinggi yang akan turun di Medan setelah dia pulang karena mengurus KTP. Tidak seperti naik omprengan di Jawa yang kita patut mencurigai semua orang di dalamnya, naik omprengan di Medan ini saya pikir lebih aman daripada di Jawa. Kecuali kalau kita menunjukkan barang-barang mewah kita, ya siapa sih yang nggak mau ngerampok.
Memang benar, mobil koran ini berjalan dengan kencang. Jauh meninggalkan bis Sejahtera di belakang kami. Saya kemudian tertidur pulas karena badan memang sangat capek. Bangun-bangun, kami sudah tiba di Pematang Siantar. Sudah pukul 18.30, tapi masih terang. Mobil koran beristirahat di Siantar sembari menunggu mobil koran lainnya dan mobil Dairi. Cukup lama berhenti, sekitar 30 menit. Setelah itu mobil kembali berjalan, tapi tidak sekencang waktu awal. Saya kembali tertidur. Ketika saya terbangun, mobil sudah berhenti di warung makan. Berhenti kedua kalinya rupanya. Kali ini melihat jam sudah pukul 21.00 dan baru tiba di Tebing Tinggi. Masih cukup jauh, sekitar 2 jam menuju Medan. Penumpang pun beramai-ramai protes ke sopir supaya berhentinya tidak lama-lama. Akhirnya sopir pun tunduk, dan tidak sampai 15 menit mobil sudah diberangkatkan. Kali ini lumayan ngebut. Sementara saya kembali larut dalam mimpi indah.
Pukul 22.30 kami sudah tiba di Tanjung Morawa. Penumpang tinggal saya, Bang Tabis, mahasiswi, dan beberapa orang yang naik dari jalan tadi. Pukul 23.15 kami sudah merapat di Terminal Amplas, di belakang kami persis ada bis Sejahtera yang tadi berangkatnya bersama dengan kami (jadi sama aja dong naik mobil koran sama naik bis, sama-sama lama). Kami segera turun dan mencari angkot tujuan Kota Medan. Tujuan saya kali ini adalah Durian Ucok! Kami mencari angkot tujuan USU karena katanya Durian Ucok berada di dekat Kampus USU. Saya kurang tahu, tapi seingat saya membaca dari blog kabarnya Durian Ucok sudah pindah ke dekat makam. Dan itu pindahnya lumayan capek kalau jalan, 4 km dari tempat semula.
Kami berjalan dari USU sampai Durian Ucok Lama. Karena ternyata sudah pindah, kami kembali berjalan ke tempat yang baru dan kami ternyata salah jalan. What the fuck salah jalan malem-malem, lewat daerah prostitusi. Banyak cewek-cewek berbagai bentuk dan ukuran berjejer di jalan siap ditawar. Ketika kami ditanyai “Mau kemana Bang?” kami menjawab “Cari duren” lalu mereka membalas dengan “Gila kali ya kamu bang, disini ada cewek cantik ngapain cari duren” dan kami terus berjalan.
Karena sudah capek, kami naik becak motor. Untuk mau ditawar Rp 12.000 untuk 2 orang. Lumayan jauh kami tersesat, sekitar 4 km. Total jarak dari tempat kami tersesat ke Durian Ucok sekitar 7 km. Kami tiba di Durian Ucok dengan selamat. Kami memesan 1 bonggol durian karena Bang Tabis dasarnya tidak suka durian. Saya menghabiskannya sendiri. Rupanya kami dapat durian Siantar dengan karakter daging tipis, tapi rasanya menggigit. Saya ingin membungkus durian pulang ke Jawa, tapi ternyata hanya tahan 24 jam. Saat itu masih pukul 01.00 sementara saya baru masuk Jogja sekitar 30 jam setelah saya beli durian. Harganya mahal, Rp 200.000 untuk kotak kecil. Jadi sayang kalau sampai basi. Apalagi duriannya enak, durian Bahorok yang dagingnya tebal.
Akhirnya saya memutuskan buat beli pancake duren besok pagi saja. Kami membayar durian kami. Cukup mahal rupanya, Rp 27.000 untuk 1 durian dan 2 gelas aqua. Tapi kalau di Jawa beli durian Rp 25.000 belum tentu dapat yang enak kalau kita tidak langganan. Dari rasanya sih, sebenarnya masih lebih juara Durian Kuning Kulonprogo yang bisa saya dapatkan dengan harga Rp 5000-7500 di Kulonprogo. Rasanya hampir sama dengan Durian Bahorok.
Kami berjalan menuju ke Stasiun sembari mampir ke warung karena Bang Tabis kelaparan. Berhubung angkot sudah tidak ada, kami naik becak menuju stasiun. Cukup Rp 12.000 lagi-lagi. Padahal jaraknya lumayan jauh, 6 km. Sampai di stasiun, peron rupanya dalam kondisi tertutup. Kami bergerak menuju ke jembatan penyeberangan untuk beristirahat karena di depan stasiun diikuti sopir taksi gelap ditawari ke Kualanamu terus. Mereka menawarkan tarif tinggi, Rp 160.000 per taksi. Padahal kalau naik ARS Cuma Rp 80.000. Kalau kita pesawatnya Garuda malah bisa gratis naik ARS. Kalau pesawatnya AirAsia, kita dapat diskon jadi Cuma bayar RP 60.000. Karena cuaca semakin dingin dan semakin lelah, kami memutuskan pindah ke depan peron dan akhirnya pun tertidur pulas di depan peron.

1 komentar:

  1. Horas lae...
    minta tolong di promosikan donk usaha saya ini.

    Warung kopi pertama yang menyajikan macam-macam kopi dari Nusantara Indonesia, tepatnya di Jl.Sisingamangaraja N0.140A.Doloksanggul.
    Tidak hanya tersedia kopi, minuman panas lain jg ada sperti Bandrek susu serta makanan ringan sperti roti bakar dan masih banyak lagi menu lain yg kami sediakan di Warkop Opos kami.
    Silahkan mampir dan nikmati suasana berbeda. :)

    BalasHapus