Kaca Sanesipun

Sabtu, 27 Juli 2013

Selong, Keheningan di Sisi Timur Lombok

Selasa, 23 Juli 2013 pukul 13.40
Sebuah kesempatan bagi saya untuk kembali 'mbolang' setelah sekian lama tidak mbolang. Mbolang terakhir saya ke Blitar, tapi akhirnya gagal juga. Kali ini, bukan cuma mbolang biasa, tapi juga melaksanakan survey untuk sebuah kegiatan yang diadakan oleh kampus akhir Agustus ini.

Tujuan saya kali ini adalah ke Selong, sebuah ibukota Kabupaten Lombok Timur. Kabupaten terletak di ujung timur Pulau Lombok, lebih tepatnya 55 km dari kota Mataram. Dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi selama 1 jam dari kota Mataram, atau dengan angkutan umum (warga sekitar menyebut dengan engkel) dengan waktu tempuh 1,5-2,5 jam. Lombok Timur, dari informasi yang diperoleh di Internet, memiliki jumlah penduduk 4x lebih banyak daripada di kota Mataram. Mata pencaharian mayoritas adalah pegawai, petani (rata-rata petani tembakau), dan sebagian nelayan.

Saya, kali ini bersama 2 orang teman saya yang turut serta dalam surlang, survey mbolang, ini memilih menggunakan penerbangan langsung dari Surabaya (SUB) ke Lombok Praya (LOP). Berhubung ada tiket pesawat Rp 350.000 kan murah. Naik bis Surabaya-Mataram sekarang sudah tembus Rp 275.000 dengan waktu tempuh hampir 24 jam (kadang lebih). Saya akhirnya memilih menumpang Citilink (pesawat baru lho, Airbus A320) untuk berangkatnya, dan pulangnya memakai Lion Air (pake Boeing 737-900ER). Total pesawat PP per orangnya habis Rp 757.500 (berhubung pesennya ndadak, jadi dapet mahal. Kadang citilink buka promo Rp 155.000 saja). Penerbangan Citilink, sementara waktu ini hanya ada 1 penerbangan saja baik dari SUB-LOP atau LOP-SUB. Sedangkan Lion Air yang pakai 737-900ER ada 2 kali penerbangan.

Saya check in pukul 13.40 di Bandara Internasional Juanda. Kebetulan pesawat ada di gate 7. Karena masih jam 13.40, saya dan teman-teman santai-santai dulu di luar. Pukul 14.05 kami mulai berjalan masuk ke gate 7. Ternyata, sudah panggilan terakhir dan kami bertiga menjadi penumpang 'eksekutif' karena nama kami dipanggil di panggilan terakhir -___- (memang citilink jauh lebih on time daripada Lion Air)

Pesawat take off dari Juanda pukul 14.40 dan tiba di Bandara Internasional Lombok di Praya pukul 16.40 WITA (15.40 WIB). Bandara ini masih baru dan masih 2 tahun beroperasi. Tidak terlalu kecil, tapi tidak terlalu besar juga. Ada 4 gate keberangkatan dalam negri. Cukup lah untuk sebuah bandara Internasional. Bersih, cukup rapi, petunjuk juga sangat jelas. Untuk menuju ke Mataram atau daerah sekitar Bandara, bisa menggunakan taksi. Atau jika ingin nego, bisa menggunakan angkutan sewa yang dikelola oleh warga sekitar. Atau jika ingin ke Mataram tapi budget minim, bisa naik Bus Damri APM (Angkutan Pemadu Moda) dengan tarif Rp 20.000 untuk BIL (Bandara Internasional Lombok)-Mataram dan Rp 30.000 untuk BIL-Senggigi. Perjalanan dari BIL ke Mataram memakan waktu 1 jam. Jarak antara BIL-Mataram lebih kurang hanya 30 km. Aksesnya sudah cukup baik, karena dari simpang jalur Lembar-Mataram sampai BIL sudah 4 lajur dan dibatasi dengan pembatas jalan yang besar. Aspalnya pun sangat halus. Jika Anda memilih naik Damri, kalau ingin ke kota, Anda akan diturunkan di Pool Damri di daerah Sweta. Dari Pool Damri ke pusat kota (Mataram Mall) Anda harus berjalan kaki sejauh 3-5 km. Atau jika capek, bisa memilih naik taksi atau ojek. Ada taksi Blue Bird juga di Lombok.
Bandara Internasional Lombok (BIL) Praya, Lombok Tengah

Malam harinya, kami menginap di Hotel Wisma Nusantara II di Jalan Beo, Cakranegara. Hanya sekitar 300 meter dari Mataram Mall. Cukup murah dan cukup lengkap, hanya Rp 105.000 dengan fasilitas double bed (meskipun cuma kasur busa) dapet kamar AC, kamarmandi dalam, TV kabel, dan aqua 2 botol. Dan pagi-pagi sekali (niatnya sih, niatnya) berangkat ke Selong. Tapi apa daya, berhubung baru bangun jam 06.30 WITA dan gagal sahur, akhirnya kami berangkat dengan sangat tergesa-gesa.

Berhubung dari Cakranegara ke Terminal Mandalika (Terminal Mataram) cukup jauh juga kalau jalan kaki (3 km), maka kami memutuskan naik angkutan kota. Kami kira cuma bakal dihantar sampai terminal, tapi kami terhanyut godaan sopir angkot dengan mengantarkan kami langsung ke Selong, tapi kami bertiga diminta bayar Rp 175.000. Lumayan murah sih, toh menurut informasi dari orang di Pool Damri dan di Hotel kabarnya naik engkel Mataram-Selong per orang kena Rp 40.000-Rp 50.000. Akhirnya kami iyakan saja tawaran driver tadi. Langsung lah kami meluncur melewati jalanan berkelok ke arah timur. Panoramanya cukup indah. Sawah di kanan-kiri. Sebelum keluar Lombok Barat, ada sebuah obyek wisata yang cukup bagus, yakni Taman Narmada. Letaknya, di Kecamatan Narmada, Lombok Barat.

Sedang asyik-asyik menikmati perjalanan, eh, tiba-tiba kami bertiga dioper ke engkel. Sopir bilang bahwa engkel sudah dia bayar dan kita tinggal naik saja. Dan kita tenang-tenang saja. Perjalanan tidak lama semenjak kami dari Cakranegara sampai masuk kota Selong, hanya sekitar 1 jam 45 menit. Kami sudah akan turun di RSUD dr R Soedjono, tapi tiba-tiba kami ditarik biaya lagi Rp 20.000 per orang. Mateeekkk. Jadi kami per orang kena hampir Rp 80.000,00 untuk perjalanan dari Mataram-Selong. Awalnya kami cukup ikhlas, meskipun tahu bahwa tarif tersebut 2 kali lipatnya tarif normal. Tapi, setelah kami bertemu dengan Camat Pringgasela dan diberitahu bahwa sebenarnya tarif asli dari Mandalika-Pancor (Selong) hanya Rp 20.000, maka kami pun menyesal sehabis-habisnya. Memang warga Lombok, warga manapun itu jujur-jujur. Tapi, pelajaran berharga saya selama mbolang ini adalah: jangan sekali-kali mempercayai sopir angkutan umum. Kalau mau dapat informasi lebih valid dan lebih netral, tanyalah ke polisi atau resepsionis hotel. Biasanya dua pihak tersebut lebih netral dan bisa dikatakan tahu semuanya.

Akhirnya, setelah berurusan dengan pihak sana-sini, kami memutuskan menginap di hotel. Dan oleh pihak sana-sini tadi kami diantar ke sebuah hotel di dekat Masjid Besar Selong. Kami menginap di Hotel Erina. Lagi-lagi cukup murah. Rp 200.000 dapat single bed yang besar cukup untuk 3 orang (kali ini spring bed), AC, (lagi-lagi) TV Kabel, dan kamar mandi dalam yang sangat luas dengan air yang dingin. Selain itu, terdapat fasilitas sahur yang memenuhi gizi untuk 2 orang: nasi, sayur, lauk-pauk (waktu itu telor ceplok, ayam goreng, sayur buncis, dan sayur asem) serta 2 cangkir teh panas. Hotel ini cuma 1 km dari masjid agung Selong, jalan kaki cuma 15 menit. Di samping masjid agung, ada alun-alun yang kalau sore ramai orang jualan legen dan kalau malam (ba'da tarawih) banyak yang jualan cilok (padahal pentol -__-). Selain itu, kalau berjalan 1 km lagi ke arah barat, Anda akan menemukan Taman Rinjani, yaitu semacam taman dengan foodcourt yang lengkap. Di depan Taman Rinjani, ada Taman Makam Pahlawan. Dan kalau ke arah selatan, akan menemukan RSUD dr R Soedjono, Selong. Kotanya cukup kecil, tiap berjalan dikit, Anda akan menemukan kantor-kantor pemerintahan. Sayangnya, kota ini jarang ada tokonya. Bahkan Anda tidak akan menemui sejenis Indomaret atau Alfamart karena memang dua waralaba tersebut dilarang berdiri di Lombok Timur. Mantab!
Masjid Besar Selong, Lombok Timur

Kalau Anda mampir ke taman Rinjani, jangan lupa merasakan sajian khas Lombok Timur. Biasanya disitu ada pedagang plecing kangkung dan urap-urap (kalau di Jawa sebutannya Gudangan). Harganya berapa? Nggak usah kuatir. Saya beli plecing+urap-urap Rp 3.000 saja bisa dipakai makan 3 orang kok. Apa yang unik dari urap-urap Lombok? Biasanya kalau di Jawa kelapa parutnya sudah dikukus dan ditambahi dengan rempah-rempah macam bawang merah, bawang putih, gula jawa, dan lombok. Tapi kalau urap-urapnya Lombok, parutan kelapanya mentah, lalu dicampur dengan sambel kering, sejenis sambel terasi. Rasanya, dijamin segar dan nikmat, agak-agak pedes gimana gitu. Juga ada makanan khas yang namanya aneh, sehingga saya pun tidak bisa mengeja. Tapi, yang jelas makanannya berbentuk ketan dipotong-potong dadu lalu diberi sunduk dari biting, kemudian diberi bawang goreng, lalu disiran kuah santan. Rasanya, hmmmm yummy!!!
Ketan disunduki disiram santan 3 rebu doang

Plecing Kangkung+Urap-urap 3 rebu doang

Jangan lupa juga beli ayam panggang (kalau tidak salah namanya) mak sa'idah. Bukanya sore hari di Taman Rinjani. Spanduknya warna ungu tua. Ini mungkin satu-satunya lapak paling asli daerah Selong, karena lainnya jualan Bakso Solo, Bakso Malang, Ayam Goreng Lamongan, Nasi Uduk Lamongan, Tahu Tek, dll -__- berasa di Jawa. Jauh-jauh ke Lombok, eh isinya orang Jawa semua -__- Kami memutuskan beli ayam panggang 3 potong (kampung), nasi, dan es teh. Orang sebelah saya beli ayam panggan setengah ekor cuma bayar Rp 15.000. Saya pun berbaik sangka, ternyata makannya murah sekali. Tiba waktunya untuk bayar, ternyata kami per orang kena Rp 25.000 untuk 1 potong ayam panggang, nasi, dan es teh. Hmmmmahaaalll! -___- Entah apakah orang 'asing' ditarik tarif mahal atau gimana, saya tidak tahu.
Es tehnya plastiknya panjang-panjang

Pagi di Hotel Erina, Selong, Lombok Timur

Hari berikutnya, saya dan 2 orang teman saya berkesempatan mengunjungi daerah Kecamatan Pringgasela. Desa yang kami kunjungi adalah Pringgasela, Pringgasela Timur, dan Timbanuh (bacanya timbenuh). Paling ekstrem adalah desa Timbanuh, berada di ketinggian hampir 1000 mdpl dan berada di kaki Gunung Rinjani. Siang-siang saja hawanya dingin, apalagi malamnya. Dan kami dibawa ke Pesanggrahan, sebuah rumah peninggalan Belanda yang kini digunakan untuk Villa yang disewakan. Lumayan, bisa menampung sampai 20 orang dengan fasilitas Gazebo dan Kolam Renang dengan view menghadap langsung ke selatan dan kalau malam (katanya) kelihatan kapal yang lalu-lalang di lautan.
View dari Pesanggrahan

Villa Pesanggrahan, Desa Timbanuh, Kec. Pringgasela, Lombok Timur

Tidak terasa, pukul 11.30 WITA survey kami selesai, dan kami kembali ke Mataram. Setelah tiba di Mataram, kami pergi lagi ke Pantai Kuta-Mandalika dengan bermodalkan sebuah mobil sewaan. Bagaimana dan seperti apa pantai Kuta? Tunggu tulisan saya berikutnya.

15 komentar:

  1. gambar sate itu namanya sate pencok. kalo di Lombok Timur banyak yang berbahan dasar sagu. Bahan dasar lainnya adalah kulit sapi. Rasanya enak

    BalasHapus
  2. Yup, terima kasih banyak infonya..Rasanya enak dan khas..gurih-gurih gimana gitu karena pakai santan..

    BalasHapus
  3. wah, gak nyangka ada yang nulis ginian di Internet :)
    ane tinggal di Selong gan, gak nyangka ada orang jauh2 dateng buat ngulas seputaran Selong. Sayang sekali karena hanya pesanggrahan yang diulas, mungkin jika sempat balik lagi kesini bisa mengunjungi Pantai Pink, Gili Kondo, atau Air Terjun Jeruk Manis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal, mas..nanya dong mas, dari KPPN selong kalo mau ke bandara akses nya gampang gak yah? pengen penempatan disana soalnyaa hehehee...

      Hapus
    2. Setahu saya, transport paling enak dari Bandara Lombok Praya ke Selong naik Damri ke Mataram turun di Mandalika, dari Mandalika ke Selong naik angkutan sejenis Bison/ELF. Kalau untuk angkutan sewa sepertinya tersedia sangat banyak juga di Bandara. Cmiiw

      Hapus
  4. Wah, salam dari Surabaya Mas..saya dulu Agustus akhir kebetulan mengadakan bakti sosial di Selong, tepatnya di Pringgasela..Kebetulan kami tinggalnya dipencar di 3 desa: Pringgasela, Pringgasela Timur, dan kebetulan saya sendiri kebagian di Timbanuh (kabarnya desa ini ada jalur pendakian ke Rinjani via Kayujati)..Waktu itu oleh Kabag Pelayanan RSU Soedjono Selong, saya akan diajak ke Pantai Pink dan air terjun jeruk manis, juga Labuhan Haji untuk lihat sunrise..tapi semuanya urung terlaksana karena waktu mepet..apalagi kabarnya Lombok Timur ini surganya air terjun :D mungkin tahun depan saya bakal kembali kesana, sekaligus melepas kangen dengan orang-orang di Pringgasela...

    BalasHapus
  5. Makasi dan kami minta maaf atas kenakalan sopir angkot dan engkelnya..... salam damai dari bumi gora. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bang denger² lombok orangnya banyak yang tindak kriminal ya apalagi lombok tengah??
      Mau backpaker kesana nih, jadi mikir² sayang padahal keindahan alamnya begitu memukau...

      Hapus
    2. Sebenarnya kalau tindak kriminal dimanapun pasti ada mas...Tinggal kesiapan kita saja untuk lebih waspada dan pandai dalam menyikapi situasi saja dalam perjalanan...Tidak perlu takut, hanya perlu persiapan yang lebih matang saja mas...selamat ngetrip :D

      Hapus
  6. ada yg mau ngetrip 21 - 24 Juni ga bro? :D

    BalasHapus
  7. Sallam damai dari putra daerah kehidupan di terminal di manapun sama saja, pandai -pandai kita saja milih angkutan umum... pemerintah daerah belum mampu tertipkan angkutan umum, saran saya kalau ke daerah cari di internet travel atau mobil sewaan yang murah gan... tidak mengurangi rasa hormat saya terimakasih sudah tulis tentang kampung saya gan

    BalasHapus
  8. Halo, mau tanya no telp Wisma Erina msh nyimpen tidak? Saya coba hubungi yg sy temukan di internet, tulalit, thx before :)

    BalasHapus
  9. Mantaaaappp Mas.... saya juga orang selong, kalau mau jalan-jalan ke lombok, harus bawa bekal yang banyaaakk looohh maaasss, terutama waktu yang diperlukan untuk menikmati panorama lombok, apalagi sekarang" ini banyak pantai yang baru-baru dibuka buat wisata..... Joooooossshh dah pokoknya

    BalasHapus
  10. Saya dr surabaya ni mas. Mau tanya klo dr bandara lombok praya langsung ke selong naik apa ya? Apaa bisa naik bis damri turun langsung ke terminal selong?

    BalasHapus