Kaca Sanesipun

Kamis, 10 Maret 2011

Pesona Bakso Babi Wonokromo

Wonokromo. Sebuah kecamatan yang terletak di bagian selatan Surabaya. Hampir mepet Sidoarjo tepatnya. Ada satu buah jembatan layang yang mungkin menjadi trandmark Surabaya tersendiri karena jembatan ini terlihat pertama kali berada di Kodya Surabaya. Wonokromo juga sedikit mendapat image yang buruk dari berbagai masyarakat. Selain kondisinya yang sangat kotor (kemproh), juga daerah tersebut terkenal dengan pasar malingnya atau biasa di dengar nama Klithikan. Bahkan ada anekdot yang menyebutkan kalau ada sepeda motor parkir di tempat itu, maka jangankan karburator dan businya bisa hilang. Bahkan ban saja bisa dicuri. Tapi, siapa sangka ada sebuah sajian kuliner bakso babi yang begitu menjanjikan dengan harga murah di daerah Wonokromo?
Berlokasi di depan tempat parkir Pasar Maling Wonokromo. Berada di sisi utara stasiun Wonokromo dan keberadaannya juga tenggelam di tengah euforia warung-warung lainnya yang menyajikan berbagai menu mulai dari es teh sampai Mie Ayam. Bisa dikatakan, pedagang di area ini lebih banyak orang kulonan (cara orang Surabaya menyebut asal daerah orang). Kulonan disini berarti orang-orang dari daerah barat, misalnya DIY dan Jawa Tengah. Ini bisa dilihat dari cara orang tersebut menyebut 'Mie Ayam'. Kalau orang Surabaya asli atau wetanan, menyebut Mie Ayam sebagai Pangsit Mie. Tapi, orang Jawa Tengah atau DIY menyebutnya Mie Ayam. Begitu juga dengan cita rasa khas teh di warung. Tentu ada bedanya yang sangat jauh. Teh Jawa Timuran, rasa tehnya kurang kental. Sedangkan teh Jawa Tengahan rasanya cukup kental atau sangat kental. Yang dari Sunda memiliki rasa cukup kental dan gula yang manis khas Sunda.
Seporsi Bakso Babi, mengingatkan dengan bakso Babi Timoho dengan harga murah dan porsi yang melimpah. Bedanya, di warung Bakso Babi Wonokromo ini kita bisa memilih apa saja yang akan dimasukkan dalam mangkok. ada bakmi kuning, rambak kulit atau sering disebut grabyas, kulit rebus, jerohan hati, jerohan usus, dan bakso. Boleh memilih salah satu, atau campuran. Semuanya harganya sama hanya Rp. 6.000,00. Porsinya? Jangan tanya. Tidak kalah dengan bakso babi Timoho. Benar-benar nikmat. Rambak kulitnya jauh dari rasa eneg. Rasanya sangat enak, justru seperti rambak sapi. Kuahnya juga begitu menggoda. Sajiannya benar-benar bersih dan enak. Lebih nikmat lagi bila ditambah sepiring nasi, sambal dan sedikit kecap.
Sungguh sebuah hal yang tidak biasa, sebuah hidangan berbau babi, di tempat umum di Surabaya, dengan harga yang hanya Rp 6.000,00. Bahkan bakso sapi saja saat ini rata-rata harganya Rp 7.000,00. Benar-benar sajian yang menggiurkan dan pas dengan kantong mahasiswa. Tentunya bagi yang tidak haram dalam mengkonsumsi babi. 

6 komentar:

  1. Wahh.. sampeyan orang kafir eaa... Makanya doyan yang haram-haram... Ane mah kagak doyan makanan haram macem gituan... mungkin sampeyan juga doyan minum pipis babi yaa...?? heheheheee... jangan marah eaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. lohhh emng knp.. haram bagi elo itu,,bagi yg suka enak kali..loe klo ngerasain jg nambah,, kebanyakan munafik tp maksiat jalan trs sama aja boong mbut..

      Hapus
  2. Bro El Fhivi Arvianto, cobalah berpikir global, gak semua masyarakat indonesia ini Muslim, lihat profil bro Nenda, dia seorang Katolik, yang notabene agamanya tidak mengharamkan makan babi...
    lantas kenapa anda bertanya yang tidak sopan ke bro Nenda? apakah bisa kalo saya bilang anda makan daging sapi, anda minum air kencingnya jg?
    tidak bukan? berpikirlah dewasa, indonesia ini majemuk, penuh keragaman... :)

    BalasHapus
  3. kok masih ada aja yaa.. orang komentar tapi gak berotak sama sekali.. kasihan..

    BalasHapus
  4. El fhivi arvianto wong ndeso sing gk tau makan babi. . . Mankanya heran d sby ada org makan bakso babi. . .

    BalasHapus