Kaca Sanesipun

Senin, 07 Maret 2011

Seni Sore Malioboro-Ahmad Yani

Siang hari menjelang sore, Jogjakarta. Kebanyakan orang akan menghabiskan waktu untuk tidur siang di rumahnya masing-masing, atau bahkan di sekolah, tempat kerja, atau bahkan tempat ibadah. Hawa yang sejuk di Jogjakarta memang membuat orang menjadi sangat betah tidur ketika sore hari menjelang. Ada yang unik, layak dinikmati di sepanjang jalan Malioboro hingga Jalan Ahmad Yani.
Pertunjukan musik yang indah sering terjadi di sepanjang jalan itu. Kota ini memang dikenal kota budaya, sehingga tidak afdol memang bila ketika di sepanjang jalan maskot Jogjakarta ini tidak dipenuhi dengan berbagai hal yang berbau seni. Perlu diketahui sebelumnya, agar tidak terjadi salah paham, Jalan Ahmad Yani atau lebih dikenal dengan A. Yani, merupakan jalan terusan dari Jalan Malioboro. Jadi, yang selama ini dikenal sebagai Jalan Malioboro, ternyata terbagi menjadi 2 bagian. Yakni Jalan Malioboro di bagian utara, dan Jalan Ahmad Yani di bagian Selatan. Mall Malioboro itu termasuk ke dalam Jalan Malioboro,begitu juga Hotel Inna Garuda dan Perpus Kota. Sedangkan Pasar Beringharjo, Benteng Vredenburg, Ramayana, dan Ramai Mall termasuk ke Jalan Ahmad Yani.
Yang menarik, selain musik-musik anak jalanan, tiap sore ada kelompok Thilung (Pethilan Calung) yang memainkan musiknya, baik di depan Malioboro Mall atau di depan Benteng Vredenburg. Sekilas cerita juga, thilung menurut beberapa sumber berasal dari Bantul, tapi ada juga yang mengklaim berasal dari daerah Banyumas. Musik-musik yang dimainkan merupakan musik sederhana. Hanya berbekal angklung, bedhug dari drum plastik bekas, kadang ada seruling, dan hentak serta gerak secara bersama-sama dan berirama. Ketika melihatnya, awal-awal ingin tertawa karena kostumnya yang unik dan eksentrik. Tapi, ketika terdengar suara alunan musiknya, hati menjadi deg-deg-serr. Salah satu musik asli Indonesia yang eksistensinya harus dipertahankan. 
Selain Thilung, di depan Hotel Mutiara Lama, ada permainan angklung yang biasa dimainkan oleh seorang tuna wicara dan memiliki cacat tubuh. Permainan yang dilakukan merupakan permainan yang harmonis antara dua set angklung. Ketika berjalan dari utara (Malioboro Mall) ke arah mendekati Hotel Mutiara Lama, suara gema angklung yang indah sudah terdengar. Dan ketika mendekat, kebanyakan orang yang mendengarnya tidak percaya bahwa yang memainkan angklung tersebut adalah orang yang tidak memiliki bagian tubuh yang lengkap. Ia tidak punya tangan dan kaki, tapi dapat memainkan musik angklung yang sangat harmonis. Belum lagi musik-musik anak-anak jalanan yang siap beraksi, seperti dalam lirik lagu karya Katon Bagaskara. Tapi, hati-hati ketika ada beberapa anak jalanan menyanyikan lagu. Mereka terkadang sedikit memaksa dalam memintanya. 
Jogjakarta, sebagai kota budaya wajar ketika pusat kotanya dipenuhi segala pernak-pernik berbau kebudayaan. Maka, kunjungilah Jogjakarta, dan nikmatilah sisi lain Jogjakarta. Tak hanya shopping, melainkan sisi filosofi budaya dan kejawen yang kental di Jogjakarta. Ya, hanya di Jogjakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar