Kaca Sanesipun

Selasa, 05 April 2011

Panarukan, Kejayaan yang Sirna

Masih ingat pelajaran sejarah SMA? Tentu masih ingat pula dengan sebuah usaha Belanda dalam membangun kejayaan dagangnya pula dengan membuat Jalur Daendels yang membentang dari Anyer (Cilegon, Banten) hingga Panarukan (Situbondo, Jawa Timur). Kenapa kedua kota ini dihubungkan oleh sebuah jalur yang harus memakan ribuan jiwa? Tentu karena kedua kota ini dahulu memiliki potensi pelabuhan yang sangat baik.
Secara geografis, Panarukan sendiri terledak di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Lebih tepatnya, sekitar 30 menit menggunakan bis ke arah timur dari Kota Situbondo. Panarukan terletak tepat diantara pantai dan jalur utama Surabaya-Ketapang (Banyuwangi). Maka, tidak susah bila akan menuju Panarukan. Semua bis jurusan Ketapang ataupun jurusan Denpasar pasti melewati Panarukan. Membayangkan Panarukan di masa lalu dengan masa sekarang sangatlah berbeda jauh. Saya membayangkan bahwa Panarukan tidak memiliki situasi yang jauh berbeda dengan Anyer, Cilegon yang memiliki urat nadi kehidupan yang bisa dibanggakan. Ternyata bayangan saya meleset 100% ketika bis mulai memasuki daerah Panarukan. Selepas Pantai Pasir Putih, kenek PO Indonesia Abadi mengingatkan saya yang akan turun di Panarukan. Begitu melewati daerah tambak, dan melintasi jembatan panjang, maka disitulah Panarukan ada. Saya diturunkan di dekat dermaga baru, yang bayangan saya juga merupakan sebuah pelabuhan besar. Ternyata, begitu masuk ke dermaga baru tersebut, yang ada hanya perasaan miris. Kejayaan masa lalu itu sudah sirna. Dermaga yang menjulang panjang ke tengah laut, yang tentu saja baru dibangun, tidak mampu mengembalikan gambaran Panarukan di masa lalu. Kondisi sangat memprihatinkan. Kondisi laut yang tengah surut juga menambah situasi di sekitar pelabuhan ini memprihatinkan. Beberapa kapal besar milik nelayan tertambat di tepi pantai. Aktivitas warga tak banyak, kecuali beberapa anak terjun ke laut untuk sekedar mencari kerang, pong-pongan, atau kepiting untuk dijual di pasar Panarukan. 
Saya beranjak berjalan ke arah timur. Bayangan saya, saya akan menemukan sebuah nadi kehidupan lain di sekitar Panarukan. bayangan saya, pasti ini bukan kota aslinya. Ini hanya kamuflase saja, dan mungkin ini cuma pelabuhan saja. Begitu saya memasuki daerah yang cukup menjauh dari tepi pantai, ternyata kondisi juga sama. Nampak sekali sebagai sebuah kota yang 'abandoned'. Ditinggalkan oleh penghuninya. Terdapat menara tinggi yang tidak lain adalah mercusuar tua, tanda bahwa tempat ini dahulu merupakan pelabuhan yang cukup besar. Kini nampaknya mercusuar itu sudah tidak difungsikan lagi karena kondisi pelabuhan yang sepi. Beranjak sedikit ke arah selatan, ternyata ada peninggalan yang lebih dan sangat mencengangkan, yakni adanya Stasiun Kereta Api Panarukan. Bangunannya sangat tua dan masih utuh. Rel-rel tua masih ada dan menampakkan bahwa stasiun itu memiliki 2 jalur kereta api. Tentu ini sebuah tanda-tanda adanya kejayaan di masa lalu. PT KAI tentu tidak mendirikan sembarang stasiun. Stasiun, apalagi sebagai stasiun ujung (stasiun akhir), hanya dibangun di kota-kota yang penting dan memiliki potensi tinggi. Setelah dirunut, ternyata jalur kereta tersebut merupakan jalur kereta Klakah (Lumajang)-Jember-Bondowoso-Panarukan yang saat ini sudah menjadi jalur kereta wisata milik Daop Jember. 
Saya kemudian beranjak dengan perenungan penuh. Saya beranjak menuju 'kota', yakni semacam pasar. Kondisinya pun sepi, memprihatinkan. Hanya ada beberapa tukang becak yang bersandar di becaknya sembari membaca koran dan menunggu penumpang. Tidak ada tanda-tanda denyut nadi kehidupan disana. Hanya mungkin beberapa pedagang ikan yang membawa sedikit ikan hasil sisa surut pantai yang kemudian dijual. Benar-benar memprihatinkan.
Keberadaan pelabuhan Panarukan memang tergeser oleh dominasi pelabuhan ikan Probolinggo. nelayan lebih suka berlabuh di Probolinggo karena semuanya lengkap dan tersedia di Probolinggo. Kota Probolinggo tidak jauh dari pelabuhan dan dapat dijangkau dengan mudah. Bandingkan dengan Panarukan. Kebutuhan hidup di Panarukan boleh dikata hanya bisa diakses ketika pasar pagi dibuka. ATM tidak ada, Indomaret dan toko swalayan lainnya tidak ada. Harapan pemerintah tentunya sangat baik. Dengan didirikannya kembali dermaga perikanan, maka dapat dengan perlahan pula mengembalikan Panarukan kepada kejayaan masa lalu yang telah sirna itu. Dan bukannya tidak mungkin bagi Panarukan untuk mengembalikan kejayaannya ke masa lampau sebagai pusat ekonomi yang cukup disegani.
Senja di Panarukan kala itu tidak dapat menghapuskan eloknya Panarukan dibalik segala kisah kejayaannya. Aroma kejayaan dan sebagai sebuah kota yang besar masih tercium di tempat ini. Auranya sebagai kota yang berjaya dimasanya, dan sisa-sisanya takkan pernah sirna termakan waktu. Senja sore itu, menutup keingintahuanku bahwa masa lalu akan menjadi masa kini. Dan sejarah masa lalu akan terhapuskan, dan segala pesona kota tua Panarukan akan sirna dengan perlahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar