Kaca Sanesipun

Jumat, 08 April 2011

Yang Lain dari Jogja

Jogja, kota dengan julukan Never Ending Asia ini sangat identik dengan makanan khasnya berupa gudeg, bakpia, nasi merah Gunung Kidul, atau gethuk thiwul. Ternyata, bisa dibilang yang khas bukan hanya itu saja. Ada beberapa segi lain yang mencerminkan ke-Yogyakartaannya dan saat ini tersebar ke seluruh pelosok Indonesia.
Ingatkah Anda dengan Waroeng Steak, Obonk Steak, BeBaQaran (BBQ), dan Spesial Sambal (Warung SS)? Tentu yang pernah tinggal di kota-kota besar seperti Jogja, Solo, Bandung, Jakarta, dan Malang mengetahui apa yang saya sebutkan diatas. Keempat resto diatas semuanya bermula dari Jogja. Bisa dibilang juga, memiliki cita rasa Jogja yang khas.Keempat resto tersebut telah membuka puluhan bahkan ratusan outlet yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Sama halnya dengan gudeg yang kini sudah tersebar kemana-mana dengan berbagai citarasanya.
Waroeng Steak dan BeBaQaran (BBQ) sendiri sebenarnya saat ini berada di bawah satu managemen yang sering disebut sebagai FesKul (Festival Kuliner). Waroeng Steak sendiri sebagai sebuah resto steak rasa pejabat harga mahasiswa konsisten menyajikan steak berkualitas, enak, dan nikmat dengan harga yang sangat terjangkau bagi masyarakat, terutama bagi mahasiswa. Saya sendiri terakhir makan di WS, sebutan akrab Waroeng Steak, makan 1 porsi chicken steak double hanya habis Rp 11.000,00 belum termasuk minumnya. Begitu juga dengan shirloin steak dan terderloin steak dengan harga yang sangat terjangkau. BBQ juga masih berkomitmen menjadi warung mahasiswa dengan harga yang terjangkau pula. Khas dari BBQ ini adalah segala yang berbau bakar-bakar. Urusan, sambal masih lebih mantab SS.
Spesial Sambal juga merupakan produk asli warga Jogja. Menurut cerita yang beredar, pemilik dari SS ini adalah seorang sarjana teknologi informatika sebuah universitas di Jogja dan sangat hobi membuat sambal. Ia menyalurkan hobinya dengan membuka warung khusus sambal. Ibunya sempat menangis karena tidak menyangka anaknya yang kuliah sedemikian rupa, dibiayai mahal-mahal, hanya akan menjadi pedagang sambal. Tapi, kini kesuksesan anaknyalah yang membuat ibunya tersenyum. Menurut situs resmi dari www.waroengss.com, SS pertama berada di daerah Ghra Sabha Pramana, dalam artian hanya menjadi sebuah warung tenda seperti yang sekarang ada di daerah Ghra Sabha Pramana. Kemudian, dibuka outlet Condong Catur, sebbelah barat Polsek Debar (Depok Barat), dan sekarang telah menjadi puluhan outlet yang tersebar di seluruh kota di Jawa. Sambalnya? Makan dulu, baru boleh komentar. Bisa dibilang bukan sambel biasa dengan nama yang aneh-aneh. Lauk pauknya? Dijamin puas dengan harga yang relatif merakyat. Sayangnya, dari tahun-ketahun porsinya semakin berkurang.
Obonk Steak, menurut informasi yang beredar juga berasal dari Jogja. Outlet di Bumijo (barangkali sebagai outlet pertamanya) sudah ada sejak saya bersekolah di TK Tarakanita Bumijo (lebih kurang 13 tahun lalu). Bisa dikatakan, Obonk Steak merupakan steak tertua di Jogja. Obonk Steak lebih dikenal sebagai steaknya kalangan atas. Warungnya sederhana, tapi menu yang disajikan benar-benar daging berkualitas internasional. Seratnya lebih baik daripada resto steak yang lainnya. Obonk saat ini sudah membuka outlet di berbagai kota besar. Bahkan di Lawan, Kab Malang pun telah berdiri resto Obonk.
Jogja, ternyata merupakan surga kuliner. Jogja, juga melahirkan berbagai sajian kuliner variasi terbaru. Ingin merasakan Jogja, tidak perlu jauh-jauh. Karena sajian khas yang telah tersaji di resto-resto di atas, sudah tersaji dekat dengan Anda, di kota-kota besar di Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar