Kaca Sanesipun

Kamis, 27 Februari 2014

8 Hari Mencari Jati Diri: Malaysia Truly Asia (Part 2)

Pukul 07.00 saya sudah terbangun. Dinginnya kamar hotel dan rasa lapar mampu mengalahkan rasa ngantuk saya. Kamar tadi malam memang dingin sekali. Kakak saya yang sekamar dengan saya saja mengaku tidak bisa tidur dengan tenang. Akhirnya kami bersegera mandi dan bersiap diri untuk check out dari hotel karena Mr Muralli akan menjemput kami pukul 09.00 dan menghantarkan kami keluar dari Singapura untuk menuju ke Melaka (Malacca). Kami mandi seperlunya dan barang kami kemas seperlunya juga karena kami tidak naik pesawat hari ini, hanya menggunakan jalur darat. Tas kami masing-masing sudah bertambah berat rupanya. Karena oleh-oleh yang banyak dan hampir berlebihan. Maklumlah, semalam belanja di Lucky Plaza membuat masing-masing dari kami kegirangan dan beli oleh-oleh terlalu banyak -_____-

Kami memperoleh sarapan dari hotel. Pelayannya bapak-bapak yang sudah tua, dan nampaknya cukup fasih berbahasa Indonesia. Menu sarapan kami adalah mie atau telur lengkap dengan daging. Saya memilih mie karena lebih kenyang. Mienya pun tidak seenak Mie Jawa Mudal atau Mie masakan Cak Tompel dekat kos-kosan. Hambar, tawar, nggak ada kaldunya. Ditambah merica dan garam pun rasanya tambah eneg. Tapi, daripada kelaparan di jalan, akhirnya mie saya lahap semuanya saja.

Pukul 09.15 kami selesai makan. Dan tepat ketika kami turun di loby, Mr Muralli sudah menjemput. Kami langsung bergegas naik ke Toyota Hi-Ace yang sejak kemarin kami gunakan. Perjalanan keluar dari Singapura ke Imigrasi ternyata cukup jauh juga. Memakan waktu lebih dari 1 jam. Jalan-jalan di Singapura besar-besar, dan pasti menaati peraturan. Meskipun ada jalanan menurun, menanjak, tapi tetap ada batasan speednya.

Sekitar pukul 11 kami tiba di perbatasan. Seperti di Bandara Changi, kami dicek paspornya dan kertas kecil yang kami bawa dari Changi diminta dan diambil disini. Bedanya, petugas disini tidak terlalu cantik sih, kalau dibandingin sama Mbak Nurul Jannah di Changi. Tapi ya tetap sip (gini dong petugas imigrasi tu yang cantik-cantik, ramah-ramah. Nggak kaya petugas Imigrasinya Jogja yang sok-sokan judes sok-sokan oke sok-sokan paling bener sendiri). Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan memasuki Malaysia. Melewati jembatan yang menghubungkan Malaysia dan Singapura sepanjang lebih dari 1 km. Kanan kiri jalan dibatasi dengan pagar yang katanya ada listrik tegangan tingginya. Saya sih kurang yakin karena belum pernah coba. Mungkin ada yang merelakan diri berhenti sebentar terus pegang pagarnya, barangkali beneran ya anggep aja bonus cerita :D katanya sih, tujuannya biar tidak ada imigran gelap yang menyeberang seenaknya tanpa ada pengawasan dari imigrasi Malaysia. 

Tak beberapa lama kemudian, kami tiba di Imigrasi Malaysia. Tempatnya kecil, dan agak jelek. Lebih jelek kalau dibandingkan dengan imigrasi Singapura tadi. Disinilah service terakhir dari Mr Muralli, dan kami harus pamit dengan Mr Muralli. Kami memberikan tips kepada Mr Muralli untuk seharian penuh kemarin. Kami memasuki loket imigrasi. Tidak ada antrian, petugasnya yang cewek-cewek juga ramah-ramah. Di Imigrasi Malaysia ini, diadakan pengecekan barang. Otomatis tas carrier saya ini saya lepas dari bahu saya, berikut tas kamera dan jaket saya. Setelah lolos pemeriksaan, segera saya bawa semua barang saya. Berhubung tidak ada meja, saya taruh tas saya di sebuah meja sembarang. Tidak tahunya, ada tulisannya ‘bagian pelaporan’ tapi dalam bahasa Malaysia dan Inggris yang sudah pasti saya blong dan tidak paham artinya. Tiba-tiba ada petugas yang wajahnya mirip Jarjit di film Upin-Ipin yang berkata-kata dalam bahasa Malaysia yang intinya meminta tas saya diperiksa. Saya mengiyakan saja, dan tas saya diperiksa. Ya, Cuma tas saya yang diperiksa. Sementara tas orang yang lainnya tidak diperiksa. Setelah beres, saya keluar ruangan dan dibilangi kakak saya bahwa saya meletakkan tas di tempat yang salah. Makanya tas saya diperiksa -____-

Kali ini kami menggunakan jasa driver yang baru. Driver kami kali ini bernama Mr Prakash. Kedua driver kami adalah orang India yang sangar-sangar perawakannya. Mr Muralli berkumis, hitam, tinggi, dan besar. Mirip inspektur Vijay gitu lah. Sementara Mr Prakash ini tinggi, besar, botak, kulit coklat tua, gigi kurang rapi, dan bertato di lengan dan bagian leher. Hmm, driver di Malaysia ini lebih preman daripada yang di Singapura. Tapi, kedua-duanya ini sangat baik dan servisnya sangat memuaskan. Hampir semua daerah mereka tahu.

Setelah berkenalan, kami melanjutkan perjalanan menuju Melaka dengan menggunakan van keluaran Cina. Mobil-mobil branded hampir langka di Malaysia. Kabarnya karena pajaknya teramat sangat jauh lebih mahal daripada mobil keluaran Cina atau keluaran Malaysia sendiri (Proton dan Prodo) ya meskipun Proton dan Prodo ini bentuk-bentuknya ada yang mirip-mirip dengan mobil-mobil branded dari Jepang atau Eropa. Ada Prodo Myvia yang bentuknya mirip Daihatsu Sirion. Ada juga Proton Exora yang bentuknya hampir mirip dengan Toyota Wish. Ada juga produk Proton yang bentuk depannya mirip Mitsubishi Lancer GT tapi belakangnya mirip BMW 323i. Perjalanan kami dari Imigrasi ke Melaka ini memakan waktu yang cukup lama, melewati tolnya Malaysia yang biasa disebut Lebuh Raya (kadang disebut Lebuh Raya Utara-Selatan). Dari gerbang ke Melaka berjarak sekitar 200 km dan dapat ditempuh selama 2 jam. Wih, hebat ya. Di Indonesia, 200 km (setara Jogja-Purwokerto) ditempuh dalam waktu 3-5 jam.

Perjalanan selama 2 jam lebih sedikit ini cukup membosankan karena lewat tol. Kanan kiri hanya pohon sawit, kadang-kadang ketemu truk-truk besar dan bis-bis antar negara yang bagus-bagus. Kami sempat mampir ke semacam rest area tapi nggak ada pom bensinnya. Kami harus ke Tandas (toilet). Istirahat 15 menit ini, saya memanfaatkan waktu untuk membeli Yeos Chrisantemum karena sejak masuk Lebuh Raya tadi selalu ada iklan Yeos. Ternyata, harganya nggak jauh beda dengan di Indonesia, hanya MYR 1,8 saja (sekitar Rp 6000). Harga Yeos di Indonesia pun juga sekitar Rp 6000 (di Indomaret dan Alfamart). Setelah puas, kami berangkat lagi menuju ke Melaka.
Satu-satunya tulisan di Malaysia yang sampai hari ini saya nggak paham artinya apa -____-

Sekitar pukul 13 kami sudah tiba di Melaka. Kotanya kecil, tapi banyak sekali kendaraan lalulalang. Tidak seperti di Singapura yang cukup jarang kendaraan lalu lalang. Kami bergegas menuju ke kota tua. Ada 3 spot yang akan kami kunjungi: Christ Church yang merupakan gereja tua di Melaka, Fort A Famosa, dan bekas makam Fransiskus Xaverius yang merupakan tokoh penyebar ajaran Katolik pertama di Indonesia dan sekitarnya. 
Christ Church dan Monumental Melaka

Spot pertama dimulai dari Christ Church. Gereja ini, kabarnya dibangun pada sekitar tahun 1700 dan telah mengalami perbaikan-perbaikan setelah sebelumnya ditetapkan sebagai cagar budaya. Kabarnya sih, di Melaka ini ada banyak sekali bangunan-bangunan peninggalan jaman dulu. Hanya memang karena tidak tercover dengan baik, beberapa telah berhasil dirubuhkan sebelum mendapatkan cap sebagai benda cagar budaya. Ya sedikit mirip lah dengan di Indonesia. Bangunan kuno, demi kepentingan bisnis, dirobohkan, lalu berganti pusat perbelanjaan atau rumah pribadi. Semacam kurang menghargai sejarah...
Atap Christ Church, dibangun 1753

Suasana di dalam Christ Church

Di depan Christ Church ini, berdiri dengan megah menara jam Tan Beng Swee (atau entahlah apa itu namanya). Cukup unik karena merupakan menara jam tua. Dulu, di depan Stasiun Tugu, ada bangunan semacam ini juga. Bentuknya tower dan ada jam tuanya. Dulu menyatu dengan kompleks pertokoan Kedawung. Tapi entah sekarang nasibnya bagaimana. Sudah jarang melihat karena ditutupi seng sejak beberapa tahun yang lalu.
Becak Hias dan Tanda Dilarang Masuk

Salah satu sudut Kota Tua Melaka

Sedikit berjalan lagi ke arah Jalan Kota, kita memasuki kompleks kota tua. Bangunan yang ada memang tua-tua dan masih nampak kokoh. Jalan terbuat dari conblock dan hanya kendaraan khusus seperti becak yang boleh lewat. Sewanya sekitar MYR 40 untuk 1 jam. Sangat unik karena becaknya dihias bermacam-macam. Ada yang dihias bunga-bunga, ada yang membawa soundsytem dan menyalakan lagu keras-keras, ada juga yang memakai pernak-pernik unik. Kanan kiri jalan ini ada museum. Salah satunya adalah museum filateli Melaka. Tulisannya sih Museum Setem Melaka. Jadi ya awalnya kupikir itu museum gitar gitu karena ada setem setemnya -_____-

Santiago Bastion

Fort A Famosa

Di kanan jalan juga ada kereta kuno yang difungsikan sebagai toko suvenir. Berjalan lurus lagi, akan sampai pada Fort A’ Famosa. Sebuah benteng peninggalan Portugis (kalau tidak salah) yang masih tersisa lengkap dengan meriamnya. Di depan Fort A Famosa ini ada bangunan mirip jembatan di kolam yang dinamakan sebagai Santiago Bastion. Kabarnya, kawasan Santiago Bastion ini dulunya merupakan tepi pantai Melaka. Itu artinya pengangkatan daratan atau reklamasi sudah berjalan sedemikian luasnya hingga pantai sekarang berada cukup jauh dari Santiago Bastion ini. Santiago Bastion sendiri baru ditemukan pada sekitar tahun 2002 secara tidak sengaja.
Makam St Fransiskus Xaverius dari Fort A Famosa

Kapal melayang diatas pemukiman penduduk. View dari atas Fort A Famosa

Lurus lagi setelah Fort A Famosa, ada museum lagi. Namun sepertinya kurang menarik. Menjelajahi Fort A Famosa dan St Paul’s Church lebih menarik. Fort A Famosa sendiri hanya sebuah bangunan kecil mirip pintu gerbang sebuah benteng. Di dalamnya, kadang ada pengamen yang memainkan lagu-lagu latin. Di belakang Fort A Famosa terdapat tangga naik untuk menuju ke bekas makam Fransiskus Xaverius. Dulu, St Fransiskus Xaverius pernah dimakamkan di tempat ini sebelum kemudian dipindahkan. Makamnya berada di puncak bukit yang menjadi satu dengan kompleks St Paul’s Church. Disana terdapat juga bekas makam beberapa kaum pejabat Portugis. St Paul’s Church sendiri awalnya merupakan gereja Katolik di Melaka yang kabarnya merupakan gereja pertama. Kemudian, gereja ini sempat beralih fungsi menjadi gereja Kristen, gudang senjata, kemudian beralih kembali jadi gereja Katolik, dan terakhir sampai saat ini menjadi tempat wisata. Di depan gereja ini berdiri megah patung Fransiskus Xaverius. Sekedar info, Fransiskus Xaverius ini adalah tokoh yang cukup terkenal karena membawa ajaran Katolik ke Indonesia melalui Nusa Tenggara Timur dan daerah Sulawesi bagian utara (Manado dan sekitarnya). 

Suasana Bagian Dalam Gereja St Paul

Bekas Makam Fransiskus Xaverius. Heran, nggak di Indonesia nggak di Melaka, bekas makam/makam selalu dijadikan ajang 'keberuntungan' lempar koin. Kalau ngelempar koin atau mata uang tertentu nanti bisa beruntung. Primitif sekali

Beberapa petilasan di sekitar Makam Fransiskus Xaverius

Dari depan dan samping St Paul’s Church inilah kita bisa melihat pemandangan yang lebih luas: kota Melaka yang padat penduduk dan laut lepas yang kadang disinggahi kapal-kapal pesiar besar.
St Paul's Church beserta Bekas Makam Fransiskus Xaverius

Setelah puas berada di atas, kami turun lagi ke Fort A Famosa menjemput pakdhe dan budhe yang tidak ikut naik karena tangga yang menanjak tinggi. Kami berjalan bersama-sama untuk makan siang di Rumah Makan Nyonya Suan, di depan McD Melaka.

Di perjalanan, tidak sengaja menemukan Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Halalan Thayiban. Rupanya laris juga produk Indonesia di Malaysia ini :D Selain itu, waktu turun dari makam Fransiskus, sempat denger ada pedangang dengerin lagu dari Indonesia: D’masiv. Katanya kakak sih, lagu Indonesia disini ngehits dan disukai orang-orang Malaysia.
Ayam Bakar Wong Solo di Melaka

Kami makan siang di Rumah Makan Nyonya Suan, sebuah rumah makan yang tidak boleh dilepaskan dari legenda Baba Nyonya (ada museumnya sih, sayang gak berkunjung kesana). Baba Nyonya merupakan sebuah cerita pertemuan budaya dari laut dan dari darat. Makanya, makan siang kali ini adalah menu campuran yang merupakan sarilaut dan sari darat: sejenis ikan patin (tapi katanya bukan ikan patin) yang dimasak asam, udang masak aneh, sayur kangkung, telor dadar, dan beberapa menu lainnya yang saya sendiri sudah lupa. Masing-masing makanan punya citarasa sendiri yang unik. Jadi, kalau dicampur jadi satu di mulut, rasanya kemranyas :D
Rumah Makan Nyonya Suan a'la Baba Nyonya Melaka

Jelang pukul 15 kami sudah selesai makan. Kami bergegas melanjutkan perjalanan karena perjalanan kami masih sangat jauh: 200 km menuju ke Kualalumpur. Kami kembali memasuki Jalan Lebuh Raya Utara-Selatan. Dan akhirnya saya memilih untuk tidur hingga memasuki Kualalumpur.

Sekitar pukul 17.30 kami sudah memasuki kompleks Bukit Bintang. Sangat ramai sore itu, dan polisi (dalam bahasa Malaysia disebut ‘Pulis’) bertebaran dimana-mana. Rupanya baru saja ada peristiwa penjambretan. Dan kabarnya, kurang dari 15 menit setelah peristiwa penjambretan, pelaku sudah diamankan. Beda banget yah :D

Kami langsung merapat ke Hotel Radius Internasional dan melakukan check in. Karena waktu yang mepet, kami segera bersih-bersih diri untuk kemudian berangkat makan malam. Meskipun langit belum gelap, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 dan kami segera dijemput oleh Mr Prakash.

Malam ini, kami makan di sebuah Rumah Makan yang menjual Chinnese Food, dan menu kami dapat disebut Nasi Kandar. Sejenis Nasi dengan makanan berbumbu kari gitu lah. Menunya lagi-lagi juga tidak mewah tapi cukup menggoyang lidah: kari ikan, oseng tofu, telur dadar jamur, dan beberapa masakan lainnya yang saya juga sudah lupa (lagi). 

Setelah selesai makan, kami kembali ke hotel dengan melewati jalanan yang sebelasduabelas dengan Jakarta: macet, padat, klakson bertebaran dimana-mana, saling serobot meskipun nggak separah di Indonesia. Tapi jalanan di Bukit Bintang malam itu berbeda banget dengan di Singapura yang serba tertib. 

Sesampainya di hotel, kami memutuskan untuk berjalan-jalan sedikit meskipun kami sudah lelah sekali. Yaaa sekedar tahu seperti apa Bukit Bintang. Di kanan kiri memang bertebaran panti pijat refleksi, mulai dari yang plus-plus sampai yang bener-bener ‘nggenah’ ada semua. Tempat Pengurupan Wang Berlesen (Certified Money Changer) juga ada dimana-mana. Harus pinter-pinter milih money changer karena meski Cuma beda kios walaupun bersebelahan, beda juga harga uangnya. Ada juga sepanjang jalan yang isinya chinnesse food dan mongolian barbeque. Burger king, durian, dan lain sebagainya tumpah ruah di Bukit Bintang ini. Turis dari negara manapun ada: Indonesia, Afrika, India, Cina daratan, Jepang, Eropa, Amerika, Amerika Latin ada semua dan tumpah ruah di jalan ini. 

Ada sesuatu yang khas: perajin kawat yang membuat kawat menjadi bentuk nama sesuai yang kita inginkan. Harganya kalau tidak salah MYR 12. Kita bisa membuat tulisan dari kawat dengan panjang maksimal 10 huruf. Waktunya pun tidak sampai 5 menit, dan ini khas (katanya) hanya ada di Bukit Bintang. Di Pojokan jalan pun juga ada sentra souvenir dengan harga yang sangat murah. Barang-barang aspal dengan kualitas mirip asli pun juga tersedia dengan harga sangat miring.
Suasana Sentra Seafood, Chinesse food, Mongolian food, dan BBQ Bukit Bintang

Setelah Pakdhe dan Budhe merasa kelelahan, kami kembali ke hotel karena memang tidak ada yang menarik lagi. Namun, saya, kakak saya, dan dua kakak sepupu saya memutuskan untuk keluar lagi dan hunting makanan India yang terkenal punya makanan dengan aroma khas rempah yang sangat kuat. Kami berempat keluar mumpung waktu masih menunjukkan pukul 21.00, waktu yang sangat sore di Bukit Bintang yang aktivitasnya 24 jam ini.
Jalanan di sekitar Bukit Bintang malam itu

Kami menemukan sebuah warung India yang jadi satu dengan counter HP dan penjual Kebab yang berwajah timur tengah (di sepanjang jalan Bukit Bintang banyak penjual kebab yang memajang lengkap dagingnya beserta alat pengasap). Kami memesan 4 gelas teh tarik (yang katanya merupakan minuman khas Malaysia), 2 roti cane kari, dan 2 martabak domba. Ketika pesanan datang, masing-masing dari kami langsung mencicipi. Teh tariknya rasanya benar-benar teh tarik: teh dengan aroma teh yang sangat kental ditambah dengan susu sapi dan vanili dengan sedikit busa di atas gelas, dan rasanya sueger. Tidak seperti yang dijual di toko-toko di Indonesia yang hanya teh celup ditambahi susu kentalmanis. Roti canenya pun khas: tidak pakai susu tapi pakai kari kambing. Kuah karinya muantab. Lebih kental dan lebih mantab daripada kuah gule Jawatimuran. Sekali coba, langsung bikin kepala pusing saking kentalnya rempah-rempah. Martabaknya pun tidak kalah huibat. Lebih huibat daripada martabak Lebaksiu Tegal atau martabak Suroboyo. Rempahnya benar-benar huhah, mantab, dan terasa. Harganya? Kami cukup membayar sekitar MYR 30 untuk 4 orang (meskipun kami sudah tambah 4 gelas teh tarik lagi).
Teh tarik dan Roti Cane yang disajikan lengkap dengan kari domba

Meskipun kami belum puas karena masih ingin coba Nasi Beriyani dan Nasi Kandar, tapi waktu menyuruh kami untuk pulang. Sudah pukul 23.55, sementara esok harinya kami dijemput pukul 08.30. Sebelum masuk hotel, saya membeli sekaleng bir untuk relaksasi badan dan agar lebih enak tidurnya. MYR 9 untuk sekaleng Heineken (di CircleK Indonesia sekitar Rp 19.000). Hari ini saya akhiri dengan minum bir dan berendam air panas di hotel. Juaraaaa...... *padahal baru saja makan makanan berbau lemak-lemak, ntar jangan-jangan paginya masuk ICU gara-gara hipertensi :p*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar