Kaca Sanesipun

Jumat, 28 Februari 2014

8 Hari Mencari Jati Diri: Mount Sibayak 2200 mdpl (Part 5)

Pagi masih menyelimuti Berastagi. Pukul 08.00 saya baru terbangun dari tidur dan segera bersiap untuk mandi dan check out dari hotel. Pukul 09.00 saya janji dengan Bang Tabis untuk bertemu di Galon (Pom Bensin) Berastagi. Saya kemudian bergegas berkemas, lalu check out hotel. Saya kembali menyusuri jalanan Berastagi pagi itu. Banyak sekali masyarakat yang mengenakan baju rapi. Para perempuannya menggunakan kain ulos khas Batak. Rupanya mereka akan menuju ke Gereja. Mayoritas agama penduduk Berastagi adalah Kristen-Katolik. 

Rupanya kota Berastagi ini tidak mirip kota-kota di Jawa pada umumnya. Biasanya, di Jawa, di kota pagi-pagi sudah ramai pasar. Di Berastagi, pasar pagi itu tidak seramai di Jawa. Siang-sore, pasar-pasar baru mulai hidup. Ada yang jual makanan, bahkan pakaian-pakaian baru-bekas.

Sampai di depan Galon, Bang Tabis melambai ke arah saya. Kami kemudian berunding sejenak: akan langsung ke Sipiso-piso atau mau ke Gunung Sibayak. Katanya, Gunung Sibayak ini sangat sayang kalau dilewatkan. Iconnya Berastagi. Apalagi tracknya tidak jauh, Cuma jalan kaki 1,5 jam saja sudah sampai puncak dan bisa lihat kota Berastagi. Bayangan saya mirip dengan Bukit Bintang gitu lah. Saya pun setuju dengan ide naik Gunung Sibayak. Maka kami menuju ke jalan yang dilewati angkot ‘Kama’ yang biasa membawa pengunjung ke Sibayak. 

Sebelum naik, saya mengisi perut dengan makan. Kebetulan warung makan yang saya kunjungi ini adalah Warung Muslim. Cukup sulit bagi kawan-kawan yang Muslim kalau ingin mencari warung Muslim yang menjual makanan halal. Kebanyakan di Berastagi ini jualannya kalau tidak babi ya anjing (B2 atau B1, kalau di Jawa B1 itu RW). Di sepanjang jalan Berastagi, hanya ada 1 warung makan Padang yang benar-benar halal. Sisanya jual BPK, Babi Kecap, Saksang (masak super pedas). Tapi di ujung jalan arah Kabanjahe juga ada warung Muslim yang jual aneka makanan halal. Saya menyarankan bagi yang Muslim kalau ke Berastagi dan memutuskan menginap, mending membawa peralatan memasak (kompor, nesting) dan bahan makanan. Minimal bawa lauk, jadi nasinya bisa beli daripada kesulitan mencari makanan yang halal.

Saya memutuskan memilih menu Nasi Soto. Saya sudah membayangkan soto di Jawa yang seger dengan irisan kentang goreng tipis sampai saya lupa kalau ini di Medan. Sudah pasti sotonya soto medan. Saya makan soto medan kedua setelah sehari yang lalu menginjakkan kaki di Medan. Soto ini lebih ringan daripada yang di Sinar Pagi. Bumbunya tidak terasa menusuk, dan bagi saya sangat nikmat. Ditambah dengan keripik apa entah namanya, kalau di Jawa namanya legendar, yang keras, gurih, tapi rasanya nagih banget. Sementara Bang Tabis hanya membeli segelas teh hangat dan gorengan. Untuk sarapan ini, saya hanya habis Rp 17.000 untuk menu saya sendiri. Cukup murah untuk ukuran di Medan.

Kami lalu bergerak ke pinggir jalan untuk naik angkot ‘Kama’. Tak berselang lama, ada angkot ‘Kama’ yang mau mengantarkan kami sampai ke gerbang Sibayak. Kami langsung menaiki angkot ‘Kama’ yang berwarna hijau tua tersebut. Lagi-lagi sama, karakter angkot di Sumatera Utara: jalannya kenceng, lubang besar atau kecil dilibas. Tidak sampai 15 menit, kami sudah tiba di pos terakhir sebelum mendaki ke Gunung Sibayak. Sebenarnya, kalau mau bayar lebih, kami bisa sampai di perbatasan jalan aspal dengan jalan setapak. Dari perbatasan ini tinggal jalan sekitar 3 km untuk mencapai puncak Gunung Sibayak. Sedangkan dari pos terakhir sampai ke perbatasan harus menempuh jarak sejauh 5-6 km. Tapi biayanya beda jauh: kalau sampai pos terakhir, per orang kena Rp 3.000, kalau sampai perbatasan, per orang kena Rp 30.000-50.000.

Kami memasuki loket pengurusan ijin masuk Gunung Sibayak. Sama sekali tidak seperti posko yang ada di jalur pendakian Semeru atau Kawah Ijen, hanya sebuah warung yang disinggahi banyak sopir angkot ‘Kama’. Tiket per sekali masuk hanya Rp 8.000,00. Kadang, penjaga pos mewajibkan membawa guide agar tidak tersesat. Bagi yang belum pernah kesana, kadang merasa terteror karena akan mengira medan yang sulit dan banyak bercabang. Padahal tidak demikian.

Kami sempat mengobrol sejenak dengan ibu penjaga warung (atau penjaga pos). Rupa-rupanya ibu ini sangat familiar dengan Jogja karena dulu pernah kuliah di Jakarta dan sering main ke Jogja karena ada saudaranya. Sudah 2 orang saya temui dalam trip ini yang familiar dengan Jogja.

Setelah puas mengobrol, kami beranjak berjalan. Medannya naik, tapi melewati jalan aspal. Cukup membuat kaki pegel. Baru sekitar 1 km kami berjalan, tiba-tiba ada suara deru mobil dari kejauhan. Kami bersiap minggir sekaligus bersiap memanfaatkan kesempatan ini. Ketika kepala mobil kelihatan, kami langsung mengacungkan jempol tanda ingin numpang. Rupanya mobil carry penumpang yang biasa dipakai untuk angkot. Pengemudi mempersilakan kami naik, tapi memang tidak jauh karena beliau akan mencari buah-buahan untuk umpan mancing. Tunggu, buah-buahan untuk umpan mancing? Rupanya, menurut beliau, ikan-ikan di pemancingan di daerah Berastagi justru gemar makan buah-buahan. Memang beberapa ikan senang dengan umpan cacing atau pelet. Tapi, kata beliau, ikan-ikan lebih tertarik buah-buahan. Ada banyak ikan vegetarian rupanya....
Jalan aspal sampai 3 km jelang puncak

Setelah mobil berjalan sekitar 3 km, kami turun. Katanya, perjalanan tinggal sedikit. Tinggal lewat 1 tanjakan terus menerus. Kami memacu perjalanan kami dengan sesekali istirahat.

Tak beberapa lama, kami tiba di perbatasan. Disana banyak orang camping. Tidak ada sumber air ketika musim kemarau (ceritanya, Sumatera Utara saat saya berkunjung sudah memasuki musim kemarau dan sangat jarang hujan). Kami langsung memanjat tebing pendek lewat lorong-lorong yang sudah terbentuk. Dan kami bergerak dengan cepat karena sudah kehabisan waktu di jalan. Perjalanan cukup teduh dan sejuk karena melewati hutan tanaman sejenis bakau. Kami terus bergerak sampai kelihatan bebatuan yang bergunung-gunung. Dari sini menoleh ke arah belakang, kelihatan Gunung Sinabung yang lagi sibuk mengeluarkan asap dan abu dan bikin kalang kabut 35 desa yang akhirnya binasa. Sekedar info, Gunung Sinabung ini dikenal sebagai Ghost Mountain oleh banyak orang. Karena dalam waktu yang cukup singkat, gunung ini membinasakan 35 desa. Bandingkan dengan letusan gunung lain: merapi misalnya. Hanya berapa belas dusun saja. Inilah yang sebenarnya mengakibatkan kecemburuan penanganan bencana bagi saudara-saudara yang mengungsi di Sinabung (kebetulan Bang Tabis ini relawan terbaik Sinabung, jadinya dapat cerita beginian).
Padang pandan mewarnai perjalanan ini

Kami terus melanjutkan perjalanan, sembari sesekali bertemu dengan para pendaki yang sudah mulai turun karena hari mulai siang. Sampailah kami di batas vegetasi. Berbeda dengan di Mahameru, batas vegetasi disini adalah perbatasan antara semak belukar dengan deretan bebatuan khas gunung Sibayak. Ada 3 puncak: puncak top one (tertinggi asli), puncak tertinggi (tertinggi semu), dan puncak BMKG. Puncak top one merupakan puncak tertinggi yang sebenarnya. Menurut beberapa info, ketinggiannya lebih dari 2200 mdpl. Singkat cerita, kami memilih mendaki puncak tertinggi semu karena pemandangan yang bagus, dekat dengan kawah belerang utama, dan bisa melihat view kota Berastagi (Taman Alam Lumbini, Miqi Holiday, kota Berastagi, Gundaling, Penatapan kelihatan dari sini semuanya).
1 km jelang puncak

Asap Solfatara dimana-mana

Di persimpangan antara puncak BMKG dan puncak tertinggi semu, kami bertemu dengan pendaki. Ada 2 orang pendaki. Mereka mengaku dari Kota Medan, dekat Sunggal, kebetulan dekat dengan rumah Bang Tabis. Mereka sesumbar bahwa sudah pernah ke tempat-tempat bagus di Medan, seperti Sibolangit, Sinabung, Bukit Lawang, dan lain sebagainya. Bang Tabis yang panas oleh sesumbar anak-anak tadi pun membalas bahwa yang terbaik adalah Sabang, Bukit Lawang, Kutacane (Aceh), dll. Sebenarnya pamer-pameran dengan cara menyombongkan seperti ini tidak perlu dilakukan. Karena selain tidak baik, juga bisa menimbulkan ketersinggungan bagi lawan bicara kita.
Puncak BMKG, karena ada detektor milik BMKGnya

Karena waktu semakin mepet dan obrolan semakin gak penting dan memanas, saya mengajak Bang Tabis untuk naik ke atas, sementara tas kami tinggal di persimpangan. 2 anak tadi, lalu ketambahan 1 temannya, menunggu teman-temannya yang baru beres-beres tenda dan akan segera naik ke puncak BMKG. Bang Tabis sudah berpesan bahwa hati-hati barangnya, karena sering barang hilang kalau mendaki Sinabung atau Sibayak. Bagi saya sendiri, sebenarnya tidak mungkin ada kehilangan, kecuali kita benar-benar ‘nggatheli’ terhadap alam dan orang lain. Pun sampai ada yang berani maling, berarti memang taruhannya nasib si maling itu sendiri yang juga akan diperlakukan semena-mena oleh alam.
Berastagi dari puncak tertinggi semu

Tas saya juga saya letakkan di persimpangan, ada uang, power bank, charger bb, hp bb yang baru saya charge dengan power bank, dan paspor serta beberapa benda berharga lainnya. Kami naik, berfoto sebentar. Sementara 3 orang yang bertemu dengan kami sudah mulai perjalanan ke puncak BMKG. Kami berdua bergegas turun dari puncak, memasukkan kamera, dan mengecek barang bawaan kami. Saya cek semua barang saya lengkap, tidak ada yang berpindah posisi, bahkan keratan tali tas carrier saya tidak ada yang berubah. Sementara Bang Tabis kebingungan mencari Hpnya yang ditinggal di dalam tas. Bang Tabis membuat kesimpulan bahwa Hpnya diambil oleh 3 anak yang bertemu kami. Kemungkinan sih, kalau menurut saya, karena ucapan-ucapan saling sesumbar tadi hingga berujung salah satu dongkol dan terambilnya HP Bang Tabis.
Sinabung mengintip

Sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan. Jika ada yang sesumbar, dengarkanlah sungguh-sungguh saja dan diiyakan saja. Meskipun sudah sering kesana, tapi tetap rendah hati. Biar tidak terjadi apa-apa di gunung.
Dentistry Airlangga di Sibayak *kampus baru mungkin setelah Penanggungan :D*

Kami akhirnya beranjak turun. Sementara rombongan anak yang dicurigai Bang Tabis tadi turun lewat jalan Hutan Bambu yang langsung tembus ke Penatapan. Awalnya kami akan mengejar mereka, tapi kami memilih hemat tenaga saja sementara saya terus menenangkan Bang Tabis yang bingung setengah mati karena khawatir harus ganti nomor.

Kami turun dengan cepat dan segera menemukan jalan aspal lagi. Niat Bang Tabis mengejar mereka dengan motor temannya kembali memuncak, dan saya kembali menenangkannya. Toh lagian kalau sudah terkejar, belum tentu orangnya ngaku. Yang ada malah cek-cok dan menambah kondisi jadi buruk, apalagi ini di alam bebas yang bukan Cuma manusia yang ada disitu.

Kami terus beranjak turun ke pos terakhir. Rupanya sangat lama juga kami berjalan. Pukul 14.30 kami sudah tiba di pos terakhir dan membeli minum. Kami kalah sebelum perang karena kami naik gunung Cuma bawa 1 botol kecil teh pucuk harum dan 1 botol aqua 600 ml. Itu untuk berdua dan jelas tidak cukup. Di pos terakhir langsung kami membabi buta membeli aqua 1500 ml dan langsung habis saat itu juga.

Kami kemudian segera menaiki angkot yang paling awal setelah kami datang. Tujuan kami adalah kembali ke Galon Berastagi untuk kemudian ke ATM Mandiri untuk beli tiket kereta dan makan siang. Sesampainya di ATM Mandiri, segalanya segera saya proses. Termasuk membeli tiket kereta lewat 121 kemudian membayarnya di ATM dan sekaligus membayar biaya kuliah 1 semester (ceritanya bayar kuliah paling jauh seumur hidup). Setelah itu, kami makan di warung padang satu-satunya di sepanjang jalan Berastagi. Selain halal, rasanya juga sip, harganya pun murah. Hanya habis Rp 34.000 untuk 2 orang sudah bonus terong, tambah nasi, dan aqua 1 botol gratis.

Setelah makan kenyang, kami bersepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Sipiso-piso. Sudah pukul 16.00 waktu itu. Jadi mungkin akan sangat sore tiba di Sipiso-piso. Kami berjalan ke arah ujung kota Berastagi untuk mendapatkan angkot atau bus untuk tujuan Merek. Sepengetahuan saya, dari Berastagi ini harus ke Kabanjahe dulu, baru dari Kabanjahe ada angkot tujuan Merek. Sementara Bang Tabis bersikeras menunggu armada Dairi atau Samosir Pribumi (Sampri, armada L300 tujuan Medan-Berastagi-Kabanjahe-Pangururan (Samosir)) yang hanya lewat Berastagi setiap pagi dan sore hari lepas jam 18.00.

Di perjalanan, kami bertemu seorang pria berambut gimbal, potongannya rasta banget, mengendarai jeep kuno. Kesannya tidak terawat. Orang ini sering ditemui Bang Tabis di posko pengungsian Sinabung, sama-sama menjadi relawan. Bang Tabis kemudian menyapa orang tersebut dengan sebutan ‘Pak Gimbal’.
“Sore Pak Gimbal”, buka Bang Tabis
“Sore, mau kemana kalian?”, sambut Pak Gimbal yang kemudian saya ketahui bernama Pak Willy atau Pak Wilson
“Ini pak nganter tamu dari Jogja, mau jalan-jalan”, lanjut Bang Tabis
“Lho, dari Jogja? Ah, sing bener. Ngapusi mesti....”, Ucap Pak Wilson dengan nada khas Jogjaannya.
Karena nada yang khas Jawanya, lalu saya menjawab juga dengan bahasa Jawa
“Ora pak, kulo asli Jogja pak (Enggak pak, saya asli Jogja Pak)”
Lalu Pak Wilson mengajak kami naik Jeep tuanya. Hampir setiap orang di jalanan menyapa beliau. Sepertinya beliau ini orang yang cukup terkenal di Berastagi.
“Kalian nggak tergesa-gesa kan?” Buka Pak Wilson
“Enggak pak, kami santai kok pak”
“Ya sudah, kita mampir ngopi dulu ya. Nggak afdol kalau ke Berastagi nggak menikmati minuman khas disini”

Memang di Berastagi bertebaran warung kopi. Tapi, saya pikir mungkin mirip sama yang di Surabaya atau di kota lain di Jawa. Pak Wilson kembali melanjutkan percakapannya sembari mengendalikan jeepnya
“Kowe Jogjane ndi le?”
“Kulo Mlati Pak, Sleman”, jawabku
“Wah, aku mbiyen yo tau nang Jogja. Awalnya, aku tanggal 15 (15 Februari) ini ada pameran lukisan di Vredeburg. Tapi aku ada urusan dan proyek lain, akhirnya aku cancel aja”, pak Wilson melanjutkan pembicaraan.
Kami tiba di sebuah kedai kopi. Tanpa basa-basi Pak Wilson langsung memesankan kami teh susu. Teh yang kental, tapi tidak berwarna hitam namun coklat tua, dengan susu kental manis dan rasa yang gurih, manis, pahit-pahit sedikit, dan menggugah selera. Hampir mirip teh tarik di Malaysia, tapi ini lebih kental lagi. Pak Wilson kembali ngobrol dengan kami

“Aku dulu lama di Jogja. Bahkan aku SMA juga di Jogja.”
Aku sudah menduga, jelas kalau Pak Wilson ini nggak mungkin kuliah di SMA Negri. Apalagi beliau sudah cukup tua. Anak-anak SMA negri di Jogja jarang ada yang berpenampilan, berpemikiran, dan punya tindakan yang sedemikian liar namun terarah ini.
“Lho, SMA di mana Pak?” Sambungku
“Ah, masak sampeyan nggak tau? Kalau sampeyan nggak tau, ya bukan orang Jogja sampeyan.”
“Di daerah mana Pak?”
“Jalan Solo, yang sekolahnya madep ke selatan sama barat.....”
Belum selesai beliau ngomong, saya langsung memotong
“Oalah! De Britto ya pak?”
“Tepat sekali dik! Aku angkatan 1996, tapi kelas 2 aku di DO karena kasus berat. Terus aku pindah ke Santo Thomas Medan, terus kuliah lagi di ISI Jogja.” Pak Wilson menjelaskan.
Kakak sepupu saya juga angkatan 1996. 

Karena kesamaan almamater inilah obrolan kami menjadi semakin akrab. Bukan maksud menyombongkan diri atau almamater, tapi selalu saya bertemu alumni De Britto dengan dandanan yang kurang ‘nggenah’ tapi punya segudang prestasi. Beliau ini diibaratkan sebagai ‘penguasanya Berastagi’: punya ladang beratus-ratus hektar lengkap dengan peternakan sapi, bisa banyak hal tapi beliau lebih senang bergerak di bidang seni dan desain eksterior, mempekerjakan banyak pengangguran yang ingin berkembang (terutama dari Yogyakarta sendiri), tapi tetap punya prinsip yang kuat dalam hidup: anak-anak muda sekarang sampah kalau hanya butuh uang untuk mabuk dan main wanita, ngamen, minta-minta dlsb itu tidak lebih dari sampah jika sebenarnya mampu (untuk bekerja). 

Menjelang akhir obrolan, kami disarankan untuk mengubah tujuan dari Sipiso-piso ke Bukit Lawang di TNGL. Beliau kebetulan juga punya banyak link di Bukit Lawang. Tapi kami berunding, waktu tidak memungkinkan bagi kami karena saya sangat ingin tahu Samosir. Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke Samosir langsung, daripada buang waktu di Sipiso-piso yang kabarnya sudah mulai penuh dengan bungkus popmie yang dibawa pengunjung tidak bertanggung jawab. Kami memutuskan pergi ke Samosir lewat Medan karena kalau pakai trayek Kabanjahe-Pangururan-Tomok bisa memakan waktu 7 jam, sementara kalau kembali ke Medan dulu paling lama 6 jam. Sebenarnya ada rute yang lebih singkat sih, yaitu Berastagi-Kabanjahe-Pematangsiantar-Parapat-Tiga Raksa-Tomok. Ini hanya memakan waktu sekitar 4 jam dan armada Kabanjahe-Siantar kalau tidak salah habis pukul 19.00. Masih cukup waktu untuk mengejar armada terakhir ini.

Tapi karena saya masih buta dengan kondisi dan malas debat panjang, akhirnya saya iyakan saja perjalanan ke Samosir lewat Medan ini. Sipiso-piso terpaksa saya coret, mungkin lain waktu bisa kesana. Toh aksesnya juga mudah.

Kami berpamitan dengan Pak Wilson, setelah sebelumnya kami meninggalkan nomor HP kami. Kemudian kami berjalan sedikit menuju ke Galon untuk mencari bis ke Medan. Kali ini langsung muncul bis Murni Ekspress. Bang Tabis meminta agar kami bisa duduk di atap, dan diperbolehkan tapi setelah pos polisi lewat.

Kami duduk di dalam bis bersama penumpang lain. Bis sudah cukup penuh. Ada seorang penumpang ibu-ibu tua yang baru saja naik. Kami ngobrol-ngobrol dengan ibu itu, yang ternyata dulu pernah tinggal di Jogja dan sampai saat ini masih sering ke Jogja. Rupanya sudah 4 orang yang saya temui yang familiar dengan Jogja. Entah kenapa Jogja di mata beberapa orang Medan ini menjadi primadona sekali.

Sesampainya di jalan lurus, kami dipersilakan kernet untuk naik ke atap. Saya kira bis akan berhenti dulu dan membiarkan kami naik ke atap. Ternyata kami naik ke atap waktu bis masih berjalan, dan jalannya pun makin kencang -______- kami bergegas naik ke atas dengan cekatan karena saking takutnya jatuh ke aspal. Setelah kami berada di atas, kami duduk bersila menikmati udara dingin dari atap bis (gondhes sekali ini sebenarnya). Terakhir kali saya naik bis tapi dapet posisi nggak strategis itu ya kelas 1 SMP, 8 tahun yang lalu. Itupun hanya di pintu, paling luar lagi, Cuma jari telunjuk yang nempel sama besi pegangan di pintu. Sekarang setelah 8 tahun tidak mengalami, langsung duduk di atap. Kalau di Jawa sudah langsung diciduk polisi. Tapi, di Medan ini, naik di atap katanya kebanggaan tersendiri. Selain lebih memacu adrenalin, kebanyakan orang berpikiran bayar Rp 10.000 kalau di dalem panas, tapi kalau di atap dingin. Jadi nggak rugi mbayar Rp 10.000nya. Wew............

Sekedar info, tarif Berastagi-Medan sebenarnya Rp 10.000. Tapi karena ketahuan saya terlihat sama sekali bukan orang Medan, tarifnya naik jadi Rp 12.500. Pun itu wajar dan murah untuk perjalanan selama 1,5 jam.

Saya menikmati berada di atas atap bis, sembari ngobrol kesana kemari. Sesekali bis berjalan kebut-kebutan, dan sesekali barang yang ada di atap bis porak-poranda dan kami harus membetulkan. Kami harus kembali ke kabin karena ada polisi yang bersiaga di jalan. Pak sopir dan kru takut kena tilang, maka kami pun turun dan duduk di dalam kabin. Tanpa terasa, saya kena masuk angin ditandai batuk dalam, badan terasa panas padahal kondisi dingin, dan sedikit mual. Tapi tidak masalah karena fisik masih cukup oke.

Kami kembali turun di Simpang Pos dan mencari angkot tujuan Amplas. Kami mendapatkan angkot berwarna kuning yang akan membawa kami ke Terminal Amplas. Ada dua terminal di Medan: Terminal Amplas dan Terminal Pinang Baris. Untuk bis tujuan Parapat diberangkatkan dari Terminal Amplas.

Ternyata, angkot yang kami naiki tidak masuk terminal. Begitu tau kami akan menuju Parapat, sopir angkot menurunkan kami di perempatan terminal. Kami disuruh menyeberang dan menunggu bis disana. Kami kemudian menyeberang. Lalu tiba-tiba kami dicegat oleh calo taksi gelap yang menawarkan taksi ke Parapat seharga RP 80.000. Wow, mahal sekali! Kalau bis padahal hanya sekitar Rp 30.000. Kami menolah dengan halus dan tetap berjalan lurus tanpa melihat ke arahnya. Calo tadi tetap mengikuti kami, sementara Bang Tabis panik dan bingung. Saya tetap tenang, karena sudah biasa terjadi di area terminal. Di Bungurasih dulu lebih parah, hampir menempeleng saya karena waktu saya ditanya mau kemana lalu saya jawab mau ke WC (lha memang tujuan saya mau ke WC mau mandi). Calo tadi mengeluarkan kata-kata kasarnya ala Medan dan mengancam akan membunuh kami berdua dengan badik. Saya sih tenang-tenang aja. Cuma sama orang yang berani omong sih tidak masalah. Tapi kalau sampai berani nyerang, ya saya nggak segan kok buat nyerang balik. Prinsipnya, kalau sana nggak nyerang duluan, maka saya nggak akan nyerang juga.

Karena kuping panas dan menghindari perkelahian lebih lanjut (saya orang Jawa asli, tapi bisa alus seperti orang Jogja asli, ceplas-ceplos dan galak seperti orang Surabaya, dan bisa berani seperti orang Medan, dengan syarat kalau ada yang memulai), kami menyingkir ke terminal dengan maksud mencari bis Intra tujuan Parapat. Kami menghampiri krunya, dan dugaan kami sebelumnya, kami bakal diputer-puter dan malah ditawari bis lain (dan ini akan terjadi kalau di terminal di Jawa). Ternyata, kami malah diarahkan untuk langsung ke loket PO Intra-Sentra. Kami disuruh naik angkot, hanya Rp 2000.

Karena bis terakhir tujuan Parapat adalah pukul 21.00, sementara waktu itu sudah pukul 19.00, kami bergegas mencari angkot yang mengantar kami ke loket PO Intra (loket adalah istilah garasi yang juga melayani pemberangkatan). Ternyata ada angkot yang berbaik hati mengantarkan kami, sopirnya sudah cukup tua. Kami berhenti di perempatan karena lampu merah. Calo yang tadi marah-marah nggak jelas masih ada disitu karena belum dapat penumpang. Kami pandangi calo tadi, sementara calo tadi juga memandangi kami dengan wajah garangnya. Salahnya sendiri sih maksa-maksa. Lha wong ada yang murah, ngapain ambil yang mahal.

Tak beberapa lama kami tiba di depan pool PO Intra, dan kami hanya membayar angkot Rp 4000 untuk 2 orang (di Jawa, jauh-dekat Rp 4000 untuk 1 orang). Kami langsung masuk ke loket dan menanyakan keberangkatan bis terakhir dan tarifnya. Ternyata benar, bis terakhir pukul 21.00 dan tarifnya Rp 30.000. Penjaga loketnya agak nggak beres, saya tanyai jawabnya nggak tegas. Ibarat yang punya rumah, masa nggak tau isi rumahnya apa aja. Begitu juga dengan penjaga loket ini. Penjaga loket, pengatur perjalanan, kok nggak tau bisnya ada berapa, berangkat jam berapa, penumpangnya sudah berapa, tarif pasti berapa. Kami akhirnya diberikan kursi di bis 2 yang masih sangat longgar karena hanya ada 11 penumpang. Setelah tiket kami beli, kami kemudian numpang mandi di garasi PO Intra-Sentra ini agar badan segar.

Selesai mandi, kami menunggu di ruang tunggu sembari menunggu bis diberangkatkan. Pukul 21.05, semua penumpang bis 1 dimasukkan. Sementara bis 2 masih belum siap dan belum ada tanda-tanda diberangkatkan. Pukul 21.15, bis 1 diberangkatkan. Saya bertanya ke petugas loket mengenai keberangkatan bis 2. Rupanya lagi-lagi tidak bisa menjawab dengan lugas dan tegas. Seperti tidak pasti. Beberapa kru sempat keluar masuk kantor dan menyatakan agar bis 2 dibatalkan saja karena penumpangnya sedikit. Tapi, akibat desakan dari kantor, bis 2 tetap dijalankan. Berpenumpang 11 orang, bis 2 diberangkatkan pukul 22.00. Bisnya bis ¾ dengan mesin Hyundai. Lumayanlah daripada bis 1 yang memakai mesin Mitsubishi dengan suspensi atosnya. Bis pun dipacu perlahan-lahan melewati lingkar Medan. Saya hanya terduduk dan memasang penutup kepala untuk tidur.

Tiba di Tanjung Morawa, saya sudah tidak mampu menahan kantuk. Apalagi bis hanya melaju pada kecepatan 60-80 km/jam. Sungguh sangat tidak seru sekali, apalagi jalanan sangat sepi malam itu. Truk-truk menyelip kami dengan leluasa. Akhirnya, saya terlarut dalam tidur yang cukup nyenyak di dalam bis yang seadanya ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar