Kaca Sanesipun

Sabtu, 15 Februari 2014

Ada Balanan di Baluran


Setelah beberapa waktu yang lalu berhasil menembus Baluran, saya bersama 9 orang teman saya dari Surabaya berangkat kembali ke Baluran pada tanggal 30 Januari 2014, yak tepat sehari sebelum libur Imlek. Perjalanan dengan 2 mobil tempur cukup lancar meskipun terhadang banjir di Mlandingan, Situbondo. Berangkat dari Surabaya pukul 22.00 dan berkumpul di meeting point Rest Area tol Surabaya-Porong pukul 22.30 dan kami baru berangkat sekitar pukul 23.00. Pukul 03.00 kami berhenti di depan Polres Situbondo karena mobil kedua kehilangan jejak cukup jauh, sekitar 35 menit kami menunggu. Pukul 04.30 kami sudah tiba di depan pintu gerbang Taman Nasional Baluran. Kami melapor terlebih dahulu, karena sehari sebelumnya pukul 12.00 siang kami sudah telpon ke kantor TNB untuk masuk ke Bama pagi jam 04.00 dan pihak TNB (bapak-bapak) menyuruh kami langsung datang dan beli tiket di pos satpam saja langsung tanpa perlu ijin (ada keanehan karena waktu berkunjung sebelumnya dititipin pesen kalau mau masuk pagi harus telpon kantor dulu). Dan ternyata firasat saya benar, ada miskomunikasi antara kantor dan satpam penjaga pintu depan. Kami tidak boleh masuk ke Bama sampai pukul 07.00. Malah kami ditawari untuk sunrise di pantai Pandean, sebelah timur pintu gerbang TNB. Shit!

Sang Burung Menanti Mentari

Kesepuluh Makhluk Terpilih yang Tiba di Baluran Dengan Selamat

Jejak Kaki Rusa

Daripada marah-marah yang tiada guna, toh Cuma marah-marah ke satpam, akhirnya kami memutuskan menunggu sampai gerbang dibuka. Kami dipersilakan parkir di depan kantor TNB. Pukul 06.30 kami sudah dibangunkan oleh satpam yang menunggu di depan dan kami dipersilakan membeli tiket masuk. Cukup Rp 47.000,00 untuk 10 orang dan 2 mobil serta 2 kamera DSLR. Kami mengemudi pelan-pelan dengan RPM rendah di sepanjang jalur antara Batangan (pintu masuk) sampai Evergreen karena barangkali ada hewan-hewan di sekitar, sehingga kami tidak kehilangan momen. Memang benar, kami sempat melihat beberapa ekor merak hijau, ayam hutan, dan beberapa ekor burung-burung liar yang terbang di udara. Meskipun begitu, di belakang kami ada beberapa mobil lain yang melaju dengan kecepatan tinggi (sekitar 40-60 km/jam) di dalam hutan. Mau dapat apa mereka? Sayang sekali, padahal istimewanya taman nasional itu ketika kita naik kendaraan pelan-pelan atau jalan kaki, disitulah ada momen-momen yang tidak bisa kita dapatkan ketika mengemudi dengan kencang.

Dua Mobil Tempur yang Ikut Dalam Trip Ini

Seperti biasa, kami hanya berfoto-foto di Savana. Savana pagi itu tidak terlalu ramai binatang. Hanya beberapa ekor burung saja, tidak ada Rusa atau Kerbau. Mungkin karena sepagi ini savana sudah cukup banyak manusia disana. Setelah puas berfoto-foto, kami beranjak ke Pantai Bama untuk istirahat sejenak, sarapan, lalu menuju ke Pantai Balanan.

Pantai Bama Pagi Itu

Seperti yang telah saya sampaikan di post sebelumnya, bahwa di Bama ada warung makan yang terjangkau. Warung bakso yang saya beli beberapa waktu lalu tampaknya tidak buka. Maka kami memutuskan sarapan di warung nasi samping wisma. Menunya bermacam-macam, mulai dari mie goreng, nasi goreng, hingga soto ayam ada semuanya. Harganya pun tidak terlampau mahal, hanya sekitar Rp 13.000,00 untuk sekali makan termasuk minumnya. Harga 1 porsi makan berkisar antara Rp 9.000,00-10.000,00. 

Suasana warung makan di Bama

Setelah kenyang, kami segera berangkat berjalan menuju Balanan. Awalnya kami ditawari guide karena perjalanan yang panjang (sekitar 4 km) dan ada banyak percabangan. Tapi, kami sedikit yakin karena kabarnya jalan menuju Balanan sudah sangat jelas. Kami bersepuluh pun akhirnya berjalan ke arah utara-barat menuju ke Balanan. Sekilas info, jalan menuju ke Balanan ini adalah sama dengan jalan menuju ke Pantai Bilik-Sijile. Bedanya, Pantai Bilik-Sijile berjarak 12 km dari Pantai Bama dan hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki (info dari kantor TNB). Kami bersepuluh terus berjalan hanya dengan bekal seadanya, tidak ada minuman yang mencukupi apalagi hari itu tergolong panas di Baluran. 

Dermaga di Mangrove Baluran

Perjalanan terus berlanjut sampai kami menyusuri sungai mati, dan kabarnya memang jalan yang benar nantinya menyusuri dan menyeberangi sungai mati. Kami terus berjalan ke arah utara-barat, kebetulan ada jejak ban sepeda motor sehingga jejak itu kami ikuti. Hingga akhirnya tiba-tiba jalan sedikit menanjak, di kiri kami merupakan lereng gunung, rumput yang semakin tinggi, serta jejak-jejak binatang bukan lagi jejak rusa (kaki 2) tapi jejak banteng karena jejak kaki yang besar-besar dan jumlah jarinya tidak 2. Kami berhenti sejenak dan panik karena air sudah mulai habis. Apalagi kami sudah jalan selama 3 jam ternyata (ini terlalu lama hanya untuk jarak 4 km dengan medan yang datar). Kami meneruskan perjalanan lagi di tengah semak-semak yang tinggi sembari berhati-hati melihat kiri dan kanan barangkali ada banteng yang lewat. Kami kemudian memilih berhenti ketika semak-semak semakin tinggi dan jalan semakin mengarah ke selatan ke arah Gunung Baluran. Jejak ban sepeda motor pun mulai menghilang. Bekal kami saat itu tinggal pulpy orange 1 botol dan goodday botol yang tinggal berisi separuh. Kami segera berputar jalur hingga menemukan persimpangan ke arah utara dengan jalur yang relatif terbuka. Persimpangan itu ada di sekitar 3 km sebelah utara-barat Pantai Bama. Sekedar info, kami sudah menempuh jarak sekitar 6 km ke arah utara-barat dari Pantai Bama hingga titik kami terakhir tersesat. Artinya, tinggal 6 km lagi sampai Pantai Bilik-Sijile yang kabarnya sangat indah itu -____-

Rombongan terbagi 2. 6 orang memilih melanjutkan perjalanan ke arah utara melewati persimpangan, barangkali menemukan Pantai Balanan, 4 orang sisanya memilih kembali ke Bama karena takut kehabisan bekal. Saya termasuk dalam 6 orang yang memilih untuk mencari Pantai Balanan, meskipun resikonya sampai di Bama dengan kondisi dehidrasi karena sama sekali tidak ada air. Ada air pun air bekas kubangan Kerbau yang tidak mungkin airnya diminum.

Salah satu jalan menuju ke Balanan

Kami berenam kembali menyusur jalan ke arah utara. Jalannya sangat terbuka, jejak sepeda motor pun jelas. Jejak kaki yang ada merupakan jejak kaki Rusa. Kami terus berjalan berbekal kompas yang ada di android salah satu teman kami. Setibanya di rimba yang menurun, kami mendengar suara 2 sepeda motor sedang beradu dengan lumpur dan pepohonan. Kami berhenti dan membiarkan kedua motor lewat. Ternyata motor tadi adalah motor Polhut (Polisi Hutan) dan seorang warga yang baru saja mengantar pengunjung ke Balanan.

“Mau kemana adik-adik ini?”, Tanya Polhut
“Mau ke Balanan Pak. Masih jauh atau sudah dekat Pak?”
“Oh, kalau adik jalan kaki tidak sampai 30 menit dik. Hati-hati di jalan ya dik!”
Lalu kami masing-masing melanjutkan perjalanan

Sisi Barat Pantai Balanan

15 menit setelah kami berjalan, kami menemukan pantai yang sangat indah, pasirnya putih, dan berhamburan potongan-potongan karang yang sudah mati di bibir pantai. Tidak ada ombak, airnya tenang, dan beberapa orang tampak tengah memancing di tengah lautan. Meskipun setengah tidak yakin, tapi kami yakin bahwa pantai itu adalah Pantai Balanan. Pantai ini sangat sepi, bahkan hanya kami berenam dan beberapa orang pemancing saja yang ada di pantai ini. Sesekali perahu nelayan terlihat melintas jauh di depan kami. Sesekali juga ada beberapa suara burung yang aneh-aneh di sekitar kami. Ada yang suaranya mirip dengan suara kambing, sehingga kami mencari-cari barangkali benar ada kambing di sekitar kami. Ada juga beberapa ekor lutung dan kera ekor panjang yang mengawasi kami dari tengah-tengah hutan, barangkali kami membawa makanan yang bisa mereka rampas :D

Karang-karang di Pantai Balanan

Sejenak kami beristirahat dan kemudian segera mandi di pantai yang sangat tenang, tidak terlalu dalam, dan lebih mirip bakmandi ini. Kabarnya, di Balanan ini terumbu karangnya sangat bagus jika kita mau berenang lebih kurang 100 meter ke tengah. Namun, karena kami tidak membawa kacamata renang atau google, akhirnya kami memilih untuk berenang di pantai saja sembari menyusun tulisan-tulisan tidak jelas dengan menggunakan karang di sekitar pantai. Karangnya banyak dan bagus-bagus :D
Berenang di air yang tenang, bersih, asin lagi dan tentunya mirip pantai pribadi

Setelah cukup puas, kami segera berpakaian kembali, minum seteguk goodday, dan kami kembali berjalan ke arah Bama. Perjalanan normal sebenarnya hanya memerlukan waktu kurang dari 2 jam. Selama perjalanan kembali, kami sempat menemukan beberapa ekor Rusa yang sedang mencari makan di antara pepohonan akasia yang tumbuh subur. Beberapa kera ekor panjang juga mengikuti kami ketika kami tiba di hutan akasia hingga sampai jelang Bama. Sore, pukul 15.00 kami sudah tiba kembali di Bama untuk mandi, makan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi untuk kembali nge-trip ke Meru Betiri-Alas Purwo.

Selayang Pandang Pantai Balanan

Alternatif transportasi: Bisa pakai ojek, tapi cukup mahal. Kadang mau Rp 30.000,00 sekali jalan. Sewa guide juga oke, tapi cukup mahal. 

Saran: sebaiknya membawa bekal yang cukup jika memilih untuk tracking. Jangan lupa membawa kompas untuk petunjuk arah. Penguasaan medan dan pengenalan kondisi bentang alam Baluran harus mencukupi agar tahu ke arah mana harus berjalan.

2 komentar:

  1. Halo, seru deh perjalanannya ke Balanan. Saya pernah juga ke Baluran tapi belom sampai ke Balanannya. Blog anda saya jadikan referensi buat ke sana untuk tahun depan. Thanks atas sharing ceritanya

    BalasHapus
  2. Halo, seru deh perjalanannya ke Balanan. Saya pernah juga ke Baluran tapi belom sampai ke Balanannya. Blog anda saya jadikan referensi buat ke sana untuk tahun depan. Thanks atas sharing ceritanya

    BalasHapus