Kaca Sanesipun

Senin, 04 November 2013

Memburu Mahameru (Etape II): Tumpang kan Tumpang

Ketika tiba di Tumpang, kami sadar bahwa perjalanan belum ada separuh. Bahkan, ibaratnya bepergian, kami baru sampai langkah pertama. Masih sangat jauh.  Apalagi fisik kami cukup capek setelah kebut-kebutan kejar waktu cepet-cepetan supaya sampai Arjosari lebih awal dan desak-desakan panas-panasan di dalam kereta Surabaya-Malang.

Kami berenambelas duduk-duduk di teras sebuah toko, tanpa kami sadari kursi kecil angkot yang kami naiki masih tertinggak di depan toko karena proses penurunan barang tadi. Ceritanya, bapaknya dibayar sekitar Rp 150.000an se angkot. Kursinya harganya lebih dari Rp 50.000,00. Jadinya rugi dong -____-
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 00.00, meskipun agak lebay sih karena sebenernya masih pukul 23 lebih dikit. Truk biru sudah terparkir di depan Alfamart Tumpang. Kami semua segera naik ke atas truk dan ambil posisi pewe masing-masing. Ada yang masih rokokan, ada yang turun ke alfamart beli minuman dan logistik. Di truk ini, saya bertemu seorang pendaki juga. Namanya anonim (waktu itu kenalan, tapi lupa namanya). Beliau laki-laki seorang diri dari Wonokromo, Surabaya mendaki Semeru. Meskipun tujuan akhir Cuma di Ranu Kumbolo dan camping sampai hari senin baru turun. Beliau bercerita bahwa beliau sering mendaki semeru sendirian. Ini kali kesekian dia mendaki semeru. Sampai berdaki
Tak lama berselang, truk berangkat. Penuh dengan manusia. Perlahan truk mulai menanjak naik lewat jalanan Tumpang-Poncokusumo dan terus menanjak ke arah Coban Pelangi (objek wisata yang cukup direkomendasikan). Selepas Coban Pelangi, jalur didominasi hutan, tebing terjal, dan tanpa lampu. Belokannya maut, jalannya juga kecil. Bagi driver amatir, sebaiknya berangkat siang daripada celaka di jalan.

Kabar buruk mulai berhembus di bak truk bahwa truk tidak bisa lanjut langsung ke Ranupani karena kondisi jalan rusak berat dan dalam perbaikan. Truk yang kami naiki Cuma dikenakan Rp 25.000 per orang karena tidak sampai Ranupani. Akibatnya, kami harus turun di persimpangan bukit teletubies-Ranupani. Kondisi gelap sekali, penerangan kami Cuma senter. Malapetaka datang lagi karena telur-telur yang dibawa Adi mulai pecah. Awalnya dua telur yang pecah. Padahal, itu untuk konsumsi 4 orang selama 3 hari .____.
Karena gelap dan tidak ada transportasi, kami harus berjalan dari persimpangan tersebut sampai ke pos selanjutnya. Jauhnya sekitar 2 km. Padahal kalau jalan sudah jadi dan ada truknya, dijamin enak. Perjalanan gelap, tanpa lampu, namun medannya enak. Sebagian jalan masih bebatuan makadam, sebagian sudah beton. Ketika melihat ke kiri, kalau siang, akan terlihat deretan bukit dan padang rumput luas. Itulah yang disebut sebagai bukit teletubies. Jika dari Wonokitri, Pasuruan, untuk mencapai tempat itu harus menggunakan Hardtop dengan sewa Rp 750.000-900.000 per hardtop untuk 8 orang.  Kalau malam, tentu nggak kelihatan. Jika sudah nampak di sebelah kiri bukit teletubies, maka akan segera sampai pos selanjutnya. Di pos ini, cirinya ada gardu di sebelah kanan (gardunya keren, langsung menghadap ke jurang. Antara gardu dan bibir jurang Cuma dibatasi triplek tipis. Jadi, jangan lendetan disitu daripada pulang tinggal nama K), ada portal, dan ada warung kecil di sebelah kanan.
Kami mengantri giliran ojek, karena ojek yang dinas malam itu sangat terbatas. Waktu tunggunya lebih kurang 30 menit. Waktu kami habiskan untuk tidur-tiduran karena badan masih lelah. Beberapa berdiang di api unggun yang ada di warung.
Gak terasa perut mulai lapar. Sejak siang sampai saat itu belum makan blas. Saya melihat ada Mie Sedaap goreng dan kopi di meja warung. Maka mulailah percakapan antara saya dan ibu penjaga warung (yang sepertinya kurang fasih bahasa Indonesia)

Saya       : Bu, ada Indomie
Ibu         : Ada mas
Saya       : Oke, Indomie rebusnya satu ya bu
Ibu         : adanya mie sedaap goreng
Saya       : Ya sudah, gapapa bu. Berapaan?
Ibu         : Rp 5000,00 satu
(Rendra, Aryo, Falah mulai nimbrung dan mau beli masing-masing satu)
Saya       : Empat ya bu jadinya
Ibu         : *menyerahkan 4 bungkus mie sedaap goreng yang benar-benar masih di dalam bungkus plastiknya*
Rendra   : Lho, nggak dimasak bu? Dimasak dong bu
Ibu         : Oh, dicong air panas ya (dicong=dikasih air panas. Tapi pikiran kami ketika itu direbus air panas)
Kami      : Iya bu *terus nungguin bentar sambil melihat perapian*
Kami curiga, di warung tidak ada kompor. Satu-satunya sumber api adalah perapian. Kok nggak ada panci berisi air ditumpangin ke perapian. Kami mulai waspada. Tak berselang lama, mie kami sudah siap.
Ibu         : *menyerahkan empat mangkok kepada kami. Ternyata, isinya mangkok: mie sedaap dalam bungkus tadi dibuka, dibagi jadi 4 bagian, dimasukin ke mangkok, lalu semua bumbunya dituang, lalu dikasih air setengah panas dari termos, lalu diaduk-aduk, lalu disajikan*
Kami      : *menerima dalam keadaan pasrah dan terpaksa memakannya dalam keadaan penuh duka karena sudah terlanjur lapar*

LIMARIBU BROOO dapet Mie Sedap goreng rebus setengah mateng gado-gado!

Perut kami berempat sedikit bergejolak setelah makan Mie Sedaap goreng rebus gak dimasak tadi. Rasanya mirip makan fujimie dikasih air putih. Apalagi kuahnya cepet banget dingin. Duh! Kami tiduran sejenak sebelum ojek mengangkut kami.

Ojekpun datang. Lumayan, saya dan Falah kebagian ojek Megapro. Perjalanan dari warung tadi sampai ke Ranupani lumayan jauh. Sekitar 3 km. Untuk ojeknya, per orang dikenakan Rp 20.000,00. Nantinya akan melewati 2 perkampungan: kampung atas dan kampung bawah (demikian tukang ojek nyebutnya). Jalannya awalnya bagus, masih beton. Tapi lama-lama kelihatan rusaknya. Ketika sudah sampai kampung bawah, maka sudah dekat dengan Ranupani.

Kesialan kembali menimpa kami setelah tragedi mie sedaap. Dompet Falah jatuh dan menghilang dari kantong. Padahal, dompet Falah adalah harapan terakhir hidup kami karena ada oasis di dalam saya (baca: uang yang melimpah). Dompet saya, dompet adi, dan dompet aryo sudah kosong melompong. Ojek pun mau nggak mau harus dibayar. Yang belum dibayar ojek saya dan falah, serta ojek adi. Totalnya Rp 60.000. Bagaimana mau bayar, lhawong dompet aja gak ada (isinya) -____- untungnya, tukang ojeknya mau dibayar  Rp 30.000,00.
Kami berenambelas segera berkumpul di depan pos pendaftaran. Masih pukul 02.30 pagi. Hawanya sangat dingin. Kami langsung mendirikan tenda. Dasar pendaki anyaran, saya dan teman-teman saya paling terakhir tendanya berdiri. Awalnya salah rangka. Kemudian salah pasak. Lalu terasnya nggak kebuka malah tambah nekuk. Akhirnya kami frustrasi dan membiarkan tenda nglembrek-nglembrek seadanya, yang penting bisa dipakai tidur.


Hari itu kami akhiri dengan tidur (cukup) panjang untuk memulai hari esok yang lebih baik: menyongsong mentari di Ranupani.

Tips:
1. Sebaiknya dompet dan barang berharga lain ditaruh di tas pinggang/tas kecil saya. Lebih aman
2. Sebaiknya makan dari bawah aja, atau setidaknya di persimpangan antara Ranupani-Bukit Teletubies
3. Pastikan harga ojek terlebih dahulu agar enak di belakangnya. Tarif ojek biasanya berubah-ubah sesuai minat tukang ojeknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar