Kaca Sanesipun

Senin, 04 November 2013

Memburu Mahameru (Etape III) : Menyongsong Mentari di Ranupani

Mentari pukul 06.30 membangunkan kami. Sejak pukul 05.00 pelataran Ranupani sudah ramai dengan suara-suara pendaki yang mulai terbangun dan mulai membereskan tenda-tenda serta tas carrier mereka.  Saya keluar tenda, dan ternyata teman-teman lainnya sudah bangun juga. Hawanya sangat dingin, tapi cukup terbantu adanya sinar matahari pagi yang membuat badan terasa hangat. Masyarakat sekitar yang rata-rata berprofesi petani juga mulai berangkat ke ladang. Anak-anak sekolahan yang rata-rata bersekolah di Senduro atau Pasrujambe, Kabupaten Lumajang juga mulai berangkat. Saya dan teman-teman saya bergegas turun ke Ranupani untuk sekedar tahu dan sekedar lihat Ranupani. Karena menurut cerita Oom saya yang setiap harinya mencari kayu jati di Ranupani, Ranupani itu bagus.

Jalan turun ke Ranupani harus melewati sela-sela bangunan. Dan ketika tiba di dermaga, Ranupani memang bagus! Masih dibalut embun tips yang mulai beranjak hilang dan sinar matahari tipis-tipis yang memantulkan cahaya melalui permukaan air Ranupani yang nampak bening dan bisa dipakai berkaca (apasih, LEBAY!). Namun, kabarnya beberapa saat sebelum ini air Ranupani tidak sebagus ini. Masih ditutupi eceng gondok. Pendaki kabarnya juga bisa mengambil air di Ranupani ini, meskipun sedikit kotor sih.
Setelah puas foto-foto ria, kami bertiga langsung kembali ke camp dan melaksanakan buang hajat. Ada kamar mandi juga dengan air yang minimalis bagi pendaki yang ingin buang air terakhir/mandi terakhir sebelum memulai pendakian karena nantinya di Kumbolo dilarang mandi, dan kalaupun mau buang air besar harus ndodok di semak-semak membawa botol aqua atau tissue basah. Mihihihihihi

Ranupani Pagi

Pukul 07.00, kami sepakat untuk sarapan dulu di warung yang ada disitu. Beruntuk ada warung yang buka, meskipun dagangannya masih terbatas. Seporsi nasi lodeh-telor ceplok-tempe ditemani teh panas dan sambel pedes segera tersaji di meja. Itu adalah menu makanan termurah disitu. Jika di Surabaya seporsi nasi lodeh dan lauk + es teh bisa dinikmati dengan mengeluarkan uang Rp 7.000,00, di Ranupani harus mengeluarkan Rp 10.000. Maklum sih, di gunung. Untuk beli apa-apa harus jauh-jauh turun ke pasar.

Dermaga Ranupani

The Mirror of Ranupani

Seteguk Teh dari Ranupani

Pukul 07.30 kami segera beberes tenda dan perlengkapan kami. Pukul 08 lebih sedikit, kami segera berangkat menuju ke Ranukumbolo. Masih dengan bayangan cerita dari  teman bahwa tracknya tidak menanjak dan Cuma jalan 5 jam, maka saya masih cukup santai melakukan perjalanan.

Full Team Pendakian Kali Ini

Saya memilih berada di deretan paling belakang. Di deretan tengah ada cewek-cewek. Di depan cowok-cowok lagi. Kami memilih jalur lewat Landengan Dowo-Watu Rejeng-Ranukumbolo karena lebih landai, meskipun panjang. Jalur Ayak-ayak-Ranukumbolo memang lebih dekat (kabarnya Cuma 3 jam) tapi lebih terjal dan lebih susah. Perjalanan keluar dari Ranupani masih enak, masih aspal besar dan agak menurun. Tanjakan pertama setelah memasuki gerbang penyambutan pendaki. Tidak terjal, tapi orang-orang di depan yang jalannya tersendat-sendat jadi bikin capek. Ditambah lagi kakinya nyeret, sehingga debu-debu berhamburan dan bikin sesak napas.

Pemandangan Lepas Ranupani

Perjalanan selanjutnya hingga Landengan Dowo didominasi track yang lumayan datar. Yaaa sesekali ada tanjakan, tapi nggak curam. Sesekali lewat track batu yang bikin kaki sakit (jujur lebih enak jalan di tanah daripada di batu), sesekali lewat semak-semak belukar, sesekali harus menghindari pohon tumbang. Yang bikin gak kuat tetep debunya. Kalau pake masker/slayer, oksigennya minim, jadinya sesek. Kalau gak pakai masker, debunya masuk hidung, bikin sesek plus meler juga. Sekilas info, dari Ranupani-Landengan Dowo track yang ditempuh adalah sekitar 3 km. Dari Landengan Dowo ke Pos 1 adalah sekitar 1 km. Kami berkali-kali istirahat karena kondisi badan memang lelah, ditambah bawaan kami top beratnya dan fisik yang kurang istirahat. Lebih kurang dari Ranupani-Pos 1 kami 4 kali berhenti. Jelang pos 1, badan mulai sebah. HP yang dari kemarin saya mode pesawat, akhirnya berguna juga. Nyalain lagu. Pakai earphone, lalu jalan pelan-pelan. Cukup membantu.

Sampai pos 1, akhirnya bisa meletakkan tas yang berat banget. Ciri-ciri pos 1 ada di tikungan letter L dan lokasi pos berada di kiri. Di bawah pohon-pohon. Lumayan, buat duduk-duduk dan istirahat juga ngumpulin oksigen untuk perjalanan selanjutnya. Di pos 1 ini, ada seorang pedagang makanan-minuman yang standby dari pagi sampai sore. Yaaa meskipun harga makanannya harga gunung
Perjalanan berlanjut menuju pos 1. Jalur dari pos 1 ke pos 2 tidak semudah tadi. Jalanan mulai didominasi jalan yang cukup menanjak, beberapa kali gersang dan berdebu (maklum musim kemarau). Dari pos 1 ke pos 2 ini perjalanan lebih kurang 2-3 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Meskipun medan cukup sulit, tapi jalur masih ada conblocknya. Ciri-ciri pos 2 adalah ada di sebelah kanan di sebuah jalur lurus. Depan pos 2 ada semak-semak yang langsung turun ke jurang. Di pos 2 ini kadang-kadang ada orang jualan, kadang-kadang tidak ada. Menurut saya, lokasi pos 2 ini kurang enak untuk istirahat. Kondisinya tidak serimbun pos 1. Sedikit terbuka dengan vegetasi cemara gunung.

Salah Satu Pemandangan di Pos 2

Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan PHP etape 1. Kenapa PHP? Jalur dari pos 2 ke pos 3 ini saya dan teman-teman saya juluki sebagai jalur PHP. Dari semua medan Ranupani-Ranukumbolo, perjalanan pos 2 ke pos 3 ini termasuk paling berat pertama. Panjang jalur dari pos 2 ke pos 3 adalah yang paling panjang diantara pos-pos lainnya. Selain itu, medannya cukup lengkap mulai dari tanjakan curam sampai turunan. Track sudah didominasi dengan tanah dan beberapa bebatuan lepas. Di tengah-tengah track antara pos 2 ke pos 3 akan melewati Watu Rejeng dengan ketinggian sekitar 2500 mdpl. Watu rejeng ini adalah sebuah bukit yang memiliki batu-batuan padas di tebingnya, gagah menjulang tinggi. Lokasinya cukup enak buat istirahat karena berada di bawah bukit dan vegetasinya cukup banyak. Jadi cukup sejuk. Watu Rejeng ini boleh dibilang tengah-tengahnya jalur pos 2 ke pos 3. Jarak antara ke Pos 2 ke Watu Rejeng dan Watu Rejeng ke pos 3 hampir sama. Jalan dari pos 2 ke Watu Rejeng didominasi oleh turunan, meskipun bukan turunan. Namun, dari Watu Rejeng ke pos 3 didominasi tanjakan yang lumayan. Meskipun bukan tanjakan yang curam, tapi cukup menguras energi. Jalur Watu Rejeng-pos 3 ini memutari bukit Watu Rejeng. Ciri-ciri pos 3 adalah pos berada di sebelah kanan, posnya ambruk sehingga Cuma bisa dimasuki beberapa orang saja, berada di sebelum tikungan ke kanan yang menanjak. Lokasinya cukup luas, jadi bisa untuk tempat istirahat rombongan yang berjumlah banyak.

Nah, pos 3 ke pos 4 ini adalah yang paling dinanti-nanti para pendaki. Karena jelang pos akhir :D
Tapi, biasanya pendaki amatir (seperti saya), biasanya memilih istirahat lamaan dikit di pos 3. Kenapa? Karena setelah pos 3 ini, jalurnya menanjak cukup terjal dan panjang. Sekitar 100 meter. Enak kalau pakai track pole atau minimal ranting kayu lah. Bisa buat tumpuan tambahan (dan tracking pole itu penting ternyata). Setelah tanjakan curam ini, jalur selanjutnya didominasi tanah-tanah yang agak bergelombang. Sepertinya sisa-sisa tanah longsor pasca musim hujan kemarin. Perlu kehati-hatian. Jalur ini sedikit memutar gunung dan berada di samping gunung. Medannya didominasi tanjakan dan turunan yang jumlahnya berimbang. Tapi nggak PHP seperti dari pos 2 ke pos 3 tadi. Ada beberapa pohon tumbang yang perlu dihindari juga. Ada beberapa tanah longsoran yang mepet-mepet dengan jurang juga. Prinsipnya tetap tenang, tetap menikmati alam sekitar, berpikir positif, dan jangan panik.

Waktu itu saya berjalan dengan pendaki dari Malang (bukan grup saya karena saya yang paling terakhir berhubung kondisi tas yang super berat). Saya guyonan seperti biasa, sehingga perjalanan jadi lebih ringan.

Pendaki 1            : “Wah, lha itu Ranukumbolo sudah hampir sampai mas”
Pendaki 2            : “Ndi? Wong garing ngono kok” (Mana, kering gitu kok)
Saya                      : “Lha wong Ranukumbolo kaet ditutup mas. Lagi dikuras wingi. Mangkane asat” (Orang Ranukumbolo barusan ditutup mas. Kemarin baru dikuras. Makanya kering)

Ranukumbolo Jelang Pos 4

Demikian joke-joke menyertai trip saya dari pos 3 sampai menjelang pos 4. Pemandangan semakin nampak jelas ketika jalan sudah menghadap ke Ranukumbolo langsung. Langsung nampak hamparan air berwarna kehijauan nan indah dikelilingi tenda-tenda pendaki.
Eits, perjalanan masih jauh. Untuk tiba ke tepian Ranukumbolo masih perlu berjalan 1 km lagi dengan medan jalan menurun. Ada beberapa jalur pintasnya, turun tebing langsung. Semuanya sama-sama aman. Tinggal pilih mana.


 
Ranukumbolo

Kami tiba di Ranukumbolo pada pukul 14.35. Leyeh-leyeh sebentar di tepian danau, lalu beranjak ke tempat teduh untuk makan siang. Teman paling terakhir tiba di Ranukumbolo pukul 15.05. Kami beristirahat hingga pukul 16.30 untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Kalimati. Karena waktu yang terbatas, kami Cuma memasak mie goreng, mie rebus, milo panas, dan teh hangat. Serta mengoles-oleskan Geliga ke seluruh tubuh kami dan menempelkan koyo cabe sebanyak-banyaknya ke tubuh kami.

DISCLAIMER!
Semua foto ini diambil dengan Kamera Nikon D320 Lensa Kit 18-55 VR dan 55-200 VR dan semuanya adalah karya tangan saya sendiri. Hak cipta ada di tangan saya sendiri. Jika ingin mengunduh atau me-re-upload harap menghubungi saya terlebih dahulu

TIPS:
1. Sarapanlah yang cukup, jangan berlebihan karena akan menyebabkan suduken (pinggang sakit)
2. Hematlah tenaga, jangan terlalu ngoyo. Ideal saja. Jalan tidak perlu terlalu tergesa-gesa
3. Bawa logistik tidak terlalu banyak. Terutama air, satu orang cukup 1,5 liter saja. Nanti bisa ambil lagi di Ranukumbolo
4. Membawa coklat atau gula jawa untuk tambahan dopping, lebih baik jika ada pocari sweat
5. Kalau benar-benar lelah/suntuk, bisa sambil mendengarkan musik. Sebaiknya dihindari headset. Dapat menyebabkan lost kontak dengan teman-teman Anda
6. Ketika Anda tidak kuat, disinilah kegunaan naik gunung yang sesungguhnya: memotivasi diri Anda untuk tetap kuat sampai akhir. Yang terpenting: jangan sombong, jangan merasa bisa terlebih dahulu, jangan berbicara kata-kata jorok dan tidak pantas, dan jangan lupa berdoa memohon perlindunganNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar