Kaca Sanesipun

Selasa, 05 November 2013

Memburu Mahameru (Etape IV) : Amazing Night

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Kami sudah berkemas dan segera berjalan menyusuri lereng selatan Ranukumbolo. Kemudian kami berhenti sejenak di lokasi camp Ranukumbolo untuk sejenak mengambil air untuk persiapan di Kalimati, karena kabarnya sumber air terakhir hanya di Ranukumbolo. Ya mumpung sumber air su dekat, beta sonde kekurangan air lagi e.

Bencana datang! Ketika semuanya sudah siap, malah saya yang gantian belum siap. Cangkolan tas carrier saya mbrodhol sodara-sodara! Sudah saya duga sebelumnya, karena seingat saya sebelum berangkat, tas saya ini hampir jebol, tapi nggak tau bagian mana yang akan jebol. Sementara itu harus membawa beban 4,5 liter air minum dan perlengkapan lainnya. Akhirnya, barang-barang yang saya rasa memberatkan saya bagi-bagi ke teman-teman. Kemudian tas saya modifikasi sedemikian rupa sehingga bisa dipakai lagi dengan menalikan cangkolan pada cangkolan yang lain. Untung dulu pernah kaya gini, jadi lumayan berpengalaman dalam kondisi darurat :v

Sekitar pukul 17.00 kami kembali berjalan. Medan berat pertama kami adalah Tanjakan Cinta. Tanjakan curam diatas 60 derajat dan panjang ini merupakan pembuka perjalanan kami menuju ke Kalimati. Mitosnya sih, jangan lihat ke belakang. Biar apa yang menjadi cinta dan cita kita bisa terwujud. Yasudah, diikuti aja. Toh sampe sekarang belum terwujud juga kok :p

Tanjakan Cinta

Baru berangkat sudah di drill dengan medan yang berat. Otomatis badan drop lagi. Apalagi koyo cabe dan Geliga belum kerasa. Akhirnya, kami beristirahat di atas tanjakan cinta sekitar 10 menit. Kemudian kami berlanjut menuju Cemoro Kandang melewati track bawah.

Tanjakan Cinta

Penderitaan belum usai! Ternyata, setelah tanjakan cinta ada turunan cinta juga. Masa bodo, daripada kelamaan akhirnya jalan cepet lewat rerumputan. Turunan cinta ini (nggak tau lah namanya) turunan dengan kemiringan lebih dari 60 derajat dan tracknya licin penuh pasir. Yang menguntungkan, kanan kirinya rumput. Jadi, lebih baik lewat rerumputan. Selain pengeremannya lebih efisien, kalau jatuh pun relatif empuk.

Senja Ungu dari Oro-oro Ombo

Sampai di dasar tanjakan, kami melewati sebuah ladang yang isinya tanaman kering semua. Pendaki menyebutnya dengan Oro-oro Ombo. Kabarnya, kalau musim hujan, Oro-Oro Ombo ini menjadi padang Lavender. Dan memang benar, tanaman-tanaman kering itu adalah Lavender. Nanti kalau musim hujan, ungu gitu warnanya. Sering dipakai pre-wed juga Oro-oro Ombo ini (niat bener). Ketika melewati lavender, jalan yang ada akan berbentuk lorong-lorong yang asyik. Nyaris seperti labirin. Patokan agar tidak tersesat adalah Cemoro Kandang, tempat yang paling banya cemaranya.

Sekitar pukul 17.40 kami sudah tiba di Pos Cemoro Kandang. Ini spot buat istirahat yang lumayan enak. Banyak cemaranya, teduh, ada tempat duduknya, yaaa meskipun mirip sama tempat shootingnya Dendam Nyi Pelet. Kami enjoy saja duduk disitu, sampai kami melihat plang tanda tempat Cemoro Kandang yang menyebutkan bahwa suhu minimumnya antara -6 sampai -20 Celcius. Kami pun menyegerakan diri untuk segera berangkat ke Kalimati. Kali ini, perjalanan kami adalah perjalanan malam yang benar-benar membelah belantara.

Pos Cemoro Kandang

Berbekal senter seadanya, kami bergegas berangkat. Saya berada di barisan belakang sendiri. Istilahnya sebagai keamanan belakang. Jalur awalnya masih santai. Cukup datar, dengan beberapa pohon tumbang dan track yang sedikit berpasir. Track selepas Cemoro Kandang ini didominasi dengan jalur berkelok-kelok. Kanan kiri didominasi oleh tanaman cemara hutan atau vegetasi khas dataran tinggi. Track selepas Cemoro Kandang ini adalah melompati sebuah bukit, karena Kalimati lebih kurang terletak dibalik bukit tersebut.

Perjalanan kami bertemu cukup banyak orang yang barusaja turun dari Mahameru. Fisik kami sudah mulai lelah sekali. Yang cewek-cewek sudah mulai merengek-rengek untuk berhenti saja. Tapi perjalanan sudah cukup jauh. Kembali ke Cemoro Kandang sudah sangat jauh, ke pos selanjutnya kami juga buta karena tidak ada yang pernah naik sampai Mahameru (dan ini baru terungkap waktu kami di perjalanan selepas Cemoro Kandang). Akhirnya diambil keputusan bahwa kami istirahat tiap 10 menit jalan. Saya tetap di posisi paling belakang dan paling santai. Selain logistik yang saya bawa semakin ringan, badan juga mulai enak karena geliga mulai memberikan reaksi. Yaaaa, ada untungnya juga tas rusak :D

Perjalanan semakin menanjak ketika puncak bukit mulai terlihat. Saya mulai kelelahan bersama Falah. Kami memilih mengambil jarak dengan yang ada di depan kami. Kelelahan membuat mayoritas dari kami berjalan dengan menyeret kaki. Ini mengakibatkan medan yang berpasir dan berdebu amburadul dan debu naik ke atas. Kami yang dibelakang ini yang susah, harus menghirup debu dan sesak-sesak sendiri. Kalau malam lumayan lah, pakai slayer bisa mengurangi masuknya debu dan relatif tidak sesak daripada pakai slayer siang hari. Karena sedikit-sedikit istirahat, akhirnya saya dan Falah mengambil celah yang lumayan besar. Ketika sudah jauh, kami berdua lalu berjalan lagi. Tapi ketika yang lain berhenti, kami terus berjalan untuk menghindari capek kaki yang berlebihan. Banyak berhenti malah bikin capek bro!

Secercah harapan ketika kami sudah tiba di puncak bukit. Kami berharap tidak kena PHP lagi karena menurut saya, ini adalah PHP kedua kami setelah PHP dari pos 2 ke pos 3. Kami adalah PHP (Penikmat Harapan Palsu). Ada banyak tenda kemah yang didirikan di sebuah pelataran yang cukup luas, dan Puncah Mahameru menjulang di kanan. Saya termasuk rombongan yang cukup awal tiba disana. Kami bersama meneriakkan “Wooowww Kalimatiiii!!!”

Sampai akhirnya kami mendekati papan tanda penunjuk tempat, dan kami tersadar bahwa tempat tersebut bukan Kalimati. Tapi masih di....Jambangan -,,-

Kami sudah benar-benar lelah. Saya Cuma mondar-mandir kesana kemari biar kaki nggak capek. Cuma satu dua yang lihat tanda penunjuk tempat tersebut. DI tanda penunjuk tempat, ada rincian jarak yang harus ditempuh dari Jambangan ke Kalimati. Tiba-tiba teman saya berteriak,” Rek, Kalimati tinggal 200 meter lagi dari sini! Ayo semangat!” Yaaa dasarnya saya tipe orang yang gak gampang percaya, saya lalu mendekati plang tersebut, langsung saya senteri dan saya lihat. Hmm, di tulisannya sih Jambangan-Kalimati 1,2 km. Tapi mungkin saya yang salah baca. Kita lihat saja lah. Kalau 200 meter, berarti paling tidak dibutuhkan 300 langkah jika asumsinya tiap langkah rata-rata sekitar 75 cm. Dan saya pun, untuk mengalihkan rasa capek, menghitung langkah kaki. Masih di bagian terbelakang.

Sudah lebih dari 300 langkah kaki, dan saya yakin bahwa jarang dari Jambangan-Kalimati adalah 1,2 km. Maka lemaslah saya, sementara teman-teman lain mulai protes. PHP katanya! Saya Cuma senyum-senyum saja dan memberi tahu yg lain kalau jarak dari Jambangan-Kalimati 1,2 km.

Tapi tidak sejauh dari Cemoro Kandang ke Jambangan. Perjalanan kali ini relatif ringan karena tracknya rata-rata mendatar dan menurun. Didominasi dengan semak-semak dan padang rumput cukup luas. Setelah sebuah turunan yang cukup berkelok, kami melihat tulisan ‘Kalimati 500 m’ dan kami bersorak kegirangan. Saking kegirangannya kami, kami mempercepat langkah. Dan voila! Tak sampai 15 menit kami sudah tiba di Kalimati. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 21.55.
Kami segera ramai-ramai bagi tugas. Ada yang mendirikan tenda dan ada yang mencari kayu bakar untuk membuat api unggun. Kami masing-masing sudah emosi. Ada yang saling membentak, ada yang sentak-sentakan kalau ngomong. Bahkan ada yang masak sambil ngamuk-ngamuk. Ya, namanya juga kondisi badan capek.
Saya dan Falah kebetulan dapat tugas mencari ranting. Batin saya, dimana mencari kayu kalau pohon-pohonnya tinggi-tinggi dan tidak ada kayu yang berguguran? Akhirnya kami berputar-putar mencari ranting kecil-kecil yang penting bisa dibakar. Karena memotong ranting dari pohon langsung adalah pamali ketika naik gunung.
Setelah dapat sedikit-sedikit ranting, dan setelah dihantui rasa takut karena sebuah pohon di Kalimati, kami bergegas membuat api unggun. Saya, aryok, dan Adi segera memasak. Behubung di luar sanga dingin sementara api unggunnya Cuma kecil dan nggak ngefek, kami memutuskan untuk memasak di dalam tenda. Kaki juga sudah senut-senut gara-gara capek dan dingin.

Kali ini, kami memasak sarden dan nasi. Dengan modal super nekat dan sok tau, beras tidak kami cuci dan langsung kami masak dengan air yang sangat kurang. Maklum, laki-laki. Nggak pernah masak. Dan nasi kami akhirnya gosong, berkerak-kerak, dan masih keras rasa beras. Sementara sarden kami rasanya eneg karena kebanyakan saos kurang garam dan gula. Sebagai pemulih rasanya, kami membuat milo hangat. Satu nesting untuk 4 orang.


Sementara kami makan dengan terpaksa nasi beras dan sarden tadi, yang diluar malah ribut sendiri masalah masak memasak. Berhubung badan sudah tidak kual, pukul 23.00 kami bergegas tidur. Perjalanan dilanjutkan esok hari, pukul 01.00 untuk muncak ke Mahameru.

TIPS:
Sebenarnya perjalanan malam kurang dianjurkan dalam setiap pendakian gunung, gunung manapun itu. Dari segi alasan mistis, setelah matahari terbenam adalah saat-saat makhluk halus keluar. Dan dari segi alasan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan, perjalanan malam hari adalah perjalanan minim cahaya dan penglihatan pun fungsinya sedikit berkurang meski dibarengi dengan pencahayaan yang baik. Selain itu, oksigen ketika malam hari lebih sedikit ketika siang hari karena ketika tidak ada sinar matahari, tanaman memproduksi gas CO2 yang membuat tubuh lebih sesak serta membuat suhu sekitar jadi lebih dingin. Ketika memang harus berjalan malam hari, disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan. Setidaknya yang cewek-cewek ada di tengah, dan yang di depan adalah yang benar-benar tahu jalan dan yang dibelakang adalah yang selalu waspada dengan kondisi sekitar. Tetap diusahakan untuk fokus, sesekali mengobrol juga perlu, sesekali berhitung untuk memastikan rombongan juga perlu. Jika lelah dan kehilangan fokus, sebaiknya beristirahat sejenak sembari minum. Istirahat pun tidak perlu terlalu lama. Cukup untuk meregangkan badan, dan jangan menekuk kaki supaya peredaran darah ke kaki tetap baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar