Kaca Sanesipun

Selasa, 20 Januari 2015

Tour de Celebes: Kasarkah Makassar? (Day 1 Part 1)

Pagi masih sangat pagi di Surabaya. Hawa diluar dingin sehabis hujan semalam. Masih pukul 03.00. Badan masih lelah setelah packing dan bersih-bersih kamar semalam sebelum 6 hari kutinggal ke Bumi Celebes. 6 Januari 2015. Lagi-lagi touring awal tahun. Semua tiket dan ittinerary sudah saya siapkan dalam amplop-amplop terpisah. Pesawat akan take off 2,5 jam lagi. Segera saya berangkat ke kamar mandi dan mandi sekenanya dengan air dalam ember. Lagi-lagi air kosan mati karena trouble dari PDAM sejak seminggu lalu.
Barang bawaan lengkap dengan tiket keberangkatan

Masih dalam keadaan bimbang setelah mandi. Akan berangkat langsung ke Juanda dan titip motor disana dengan resiko biaya penitipan mahal, atau motor dititipkan di Bungurasih lalu naik DAMRI ke Bandara Juanda. Lama berkutat dengan kegalauan pagi itu, pukul 04.00 saya memutuskan untuk berangkat ke Juanda langsung saja. Mengingat pukul 05.00 sudah harus boarding, karena check-in sudah saya lakukan semalam melalui web-check in. Toh biaya penitipan motor juga nanti akhirnya tidak beda jauh kalau saya titip motor di Bungurasih masih ditambah DAMRI Bungur-Juanda PP (2x Rp 15.000). Segera pagi itu saya bersama tas keryl hijau kesayangan  dan Supra X 125 kesayangan meluncur ke Bandara Juanda Terminal 2 dengan cepat, singkat, padat, dan berisi. Berisi deg deg an.
Pagi lagi-lagi masih terlalu pagi, baru saja lepas Subuh. Jalanan masih sangat sepi, masih gelap, ditemani beberapa travel yang baru tiba di Surabaya dan mengejar waktu istirahat sebelum mentari terbit. Saya memilih lewat Dharmahusada Indah-Kertajaya-Menur-Prapen-Rungkut Mapan-Tropodo-Juanda agar lebih aman. Pukul 04.30 saya sudah tiba di Terminal 2 Bandara Juanda. Segera motor kesayangan kutitipkan di penitipan motor dan bergegas masuk ke pintu keberangkatan. Cukup ramai bandara pagi itu. Rombongan jamaah haji atau umroh saya kurang tahu, sudah memadati T2 Juanda pagi itu.

Saya segera lapor tiket dan menaruh tas hijau saya ke bagasi. Toh saya pikir aman saja dan tidak akan ada yang diambil dari tas saya. Pun waktu penerbangan Medan-Jakata dengan Lion Air saja tas keryl di bagasi juga aman, Pancake Durian 2 biji juga tetap selamat.

Terminal 2 ini bagus, tapi masih bagus Terminal 3 Soekarno-Hatta. Tapi, papan penunjuk arahnya sangat kurang, jauh dari kurang kalau dibandingkan Terminal 1. Karena keasyikan lapor, dan melihat tiket ternyata kebagian Gate 1, lalu saya melihat sekeliling. Ada tulisan terpampang besar tulisan ‘Boarding Room’ di lantai 2, maka saya bergegas naik ke lantai 2. Sampai di lantai 2, setelah check barang, saya mencari Gate 1. Ternyata tidak ditemukan gate 1. Mungkin belum dibuka. Biasa lah di Adisucipto Jogja sering gatenya dipindah-pindah senaknya. Saya pun memilih menunggu panggilan untuk boarding sembari melihat kanan kiri.

Pukul 05.20 seluruh penumpang penerbangan GA631 dipanggil untuk masuk ke pesawat melalui Gate 1. Ya, kali ini saya naik Garuda Indonesia. Untuk yang pertama kali.

Karena ada panggilan boarding, maka saya bergegas berjalan ke Gate 2, karena nalar saya seharusnya disamping gate 2 adalah gate 1. Anehnya, tidak ada penumpang yang berdiri dan berjalan menuju ke arah sana. Saya curiga, dan sejak awal sudah curiga. Kecurigaan saya ini membuat saya harus tanya ke tukang sapu. Daaannnn......ternyata Gate 1 ada di lantai 1. Fak....sudah 5 menit semenjak panggilan Boarding. Masak nama saya disebut lagi dalam panggilan terakhir. Saya berlari. Berlari kencang turun dan masuk ke Gate 1. Bis Apron sudah berangkat. Tersisa Avanza milik Garuda Indonesia. Saya pun bersama satu penumpang yang tampaknya juga terlambat boarding segera menuju ke Avanza tersebut. Avanza langsung dipacu menuju ke pesawat Bombardier CRJ1000 yang terparkir di ujung. Ya, sebuah pesawat yang lebih mirip bis patas dengan seat 2-2. Saya sudah siap hati, fisik, dan mental jika nanti kondisinya sama ketika penerbangan ke Lombok 2 tahun lalu dengan Citilink: nama disebut pada panggilan terakhir, sampai pesawat penumpang sudah lengkap, lalu diliatin penumpang lain dengan pandangan gak enak, sebagian teriak “wuuuu...” ke kami. Biasa naik Lion sih

Ternyata ekspektasi saya terlalu besar. Saya tidak terlalu akhir karena masih ada beberapa penumpang yang antri di tangga masuk pesawat. Saya duduk di kursi 25K, karena saat check-in saya sengaja duduk di kursi dekat jendela. Tak lama kemudian, pesawat segera mengambil posisi take-off. Sebelah saya seorang laki-laki dengan wajah khas Makassar, nampaknya sedang dalam posisi ngantuk dan wenak. Maka saya memilih memasang wajah cuek juga.

Pesawat take-off dengan sangat mulus, karena pilot yang berpengalaman dan cuaca sangat cerah pagi itu. Setelah pesawat berada pada posisi yang baik, makanan mulai dibagikan. Harapan saya, dapat nasi. Ternyata hanya snack 2 potong roti, aqua mini, dan segelas susu yang sebenarnya bisa memilih antara teh, kopi, susu, jus. Yang penting bisa cukup mengganjal perut sampai tiba di Tanjung Bira nanti sore.

30 menit menjelang landing. Suasana di pesawat hening. Saya memaksakan diri membaca majalah Garuda Indonesia yang tersedia di kantong kursi. Penumpang sebelah saya membuka percakapan. Maka mulailah kami mengobrol. Ternyata, sebelah saya ini adalah orang asli Solo, tapi sudah 11 tahun berada di Maros, Sulawesi Selatan. Beliau ini adalah seorang pelaut, bekerja di Meratus. Hipotesa saya sementara, pindah daerah tempat tinggal dapat menyebabkan perubahan bentuk struktur wajah à bisa jadi usulan thesis ini, tapi penelitiannya lama sekali.

Di samping kanan kiri pesawat mulai nampak gumpalan awan Cumulonimbus hitam pekat. Penumpang lain, melihat kondisi demikian, segera khusuk dalam doa. Bait-bait doa mulai terdengar sayup-sayup. Saya tetap santai dan menyerahkan segalanya padaNya. Anggap saja ini lagi naik bis patas terus lewat jalan yang jelek, getar-getar dikit. Pesawat semakin turun dan semakin turun. Daratan mulai terlihat. Ya, Sulawesi mulai terlihat. Cuaca hujan deras, beberapa bagian tampak tenggelam oleh banjir.

Pesawat semakin merendah, dan yak, berhasil mendarat dengan sangat mulus di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di tengah guyuran hujan lebat. Begitu pintu pesawat dibuka, saya bergegas keluar menuju bis apron yang sudah menunggu. Pukul 08.30 WITA. Saya harus mengejar bis tujuan Kepulauan Selayar di Terminal Malengkeri yang akan membawa saya menuju ke Tanjung Bira. Saya mendapat pesan dari Pak Aprinugrahananto, orang Solo yang duduk di sebelah saya tadi, agar naik taksi saja supaya cepat sampai Malengkeri. Beliau awalnya menawarkan tumpangan, tapi karena beliau dijemput hanya dengan motor, maka saya tidak enak dengan beliau.
Saya segera menuju ke pengambilan bagasi karena tas keryl saya terlalu besar jika harus masuk bagasi kabin. Musim hujan, jadi sedia cukup banyak baju.

15 menit menunggu belum ada pertanda bagasi keluar. 25 menit menunggu, bagasi belum juga keluar. Penumpang mulai marah-marah karena proses bongkar bagasi lama sekali. Sementara pesawat yang landing di belakang saya barangnya sudah muncul semua. Waktu mulai menginjak pukul 08.55. Bis ke Selayar berangkat pukul 09.15. Suatu yang mustahil di kota manapun juga jarak 17 km ditempuh dalam waktu 20 menit. Referensi banyak orang, Bandara-Malengkeri membutuhkan waktu setidaknya 1 jam. Pun saya pasrah saja seandainya harus ketinggalan bis ke Selayar. Mengingat lambannya pihak Bandara Sultan Hasanuddin ini.

Pukul 09.05 barang saya akhirnya keluar. Wow, 35 menit menunggu bongkar bagasi. Cepat sekali! Saya pun segera menuju ke komputer pemesanan taksi otomatis. Di Bandara ini, yang mungkin bisa ditiru bandara lain, ada komputer untuk memesan taksi atau mobil rental. Tinggal pencet dan pilih jenisnya, akan keluar semacam struk yang nanti ditukarkan ke kios-kios taksi atau rental mobil persis di depan pintu keluar. Zona kios tersebut dipagari, sehingga tidak boleh ada penjemput atau orang yang menawarkan jasa angkutan yang masuk ke zona tersebut. Saya sudah menyiapkan posisi waspada karena konon katanya orang Makassar keras dan kasar, lebih keras daripada Surabaya, lebih kasar daripada Medan. Saya memilih taksi Bosowa, karena konon katanya ini taksi terbaik di Makassar, kalau di Jawa sekelas BlueBird. Bukan maksud apa-apa, hanya demi keamanan saja. Toh kabarnya tarifnya nyaris sama semua. Untuk harga yang sama/hampir sama, kenapa tidak memilih yang terbaik?

Saya langsung menuju ke counter Bosowa untuk menukarkan struk. Ditukarkan dengan struk berwarna merah. Dengan memesan melalui komputer, kita dikenakan charge tambahan Rp 8000. Tapi itu lebih aman karena akan dijauhkan dari segala godaan orang-orang kurang bertanggung jawab. Saya segera diarahkan ke pintu khusus angkutan rental dan taksi. Disana sudah ada yang menjemput saya dari taksi Bosowa. Tak lama kemudian, unit taksi segera datang. Armada sangat mirip dengan milik Bluebird di Jawa. Sopirnya juga masih muda, sangat ramah, dan asyik diajak ngobrol.

Tanpa basa-basi, nanti keburu basi, saya minta ke pak sopir agar bisa cepat karena saya harus mengejar bis menuju Selayar di Mallengkeri. Dan tanpa basa-basi juga, pak sopir yang gaul ini segera tancap gas kencang-kencang, masuk tol. Hujan sangat lebat pagi itu. Tapi kecepatan taksi tetap stabil 80-100 km/jam. Beberapa sisi tol juga banjir, tapi dengan gesit pak sopir menghindari genangan-genangan, sembari tetap mengobrol dengan saya. Kesan orang Makassar itu keras dan kasar, langsung sirna sudah. Guyonan-guyonan nan gayeng senantiasa muncul dari pak sopir ini. First impression yang sangat baik, bagi saya seorang pendatang ini.

Pukul 09.50 taksi sudah tiba di depan Terminal Bus Malengkeri. Wow, 45 menit. 5 jempol untuk pak sopir taksi Bosowa yang saya tumpangi. Tarifnya pun juga lumayan untuk kejar waktu, meskipun masih lebih mahal daripada tiket ke Selayar. Tapi....tak apalah, Rp 160.500 segera melayang. Biaya tersebut termasuk biaya tol dan masuk Terminal Malengkeri. Saya harap-harap cemas takut bis ke selayar sudah berangkat semua. Ternyata, malah semuanya belum berangkat. Armadanya bagus-bagus, hampir sama seperti di Jawa. Ada PO Sumber Mas Group (Sumber Mas Murni, New Sumber Mas, Sumber Mas) yang menyediakan armada Mercedes-Benz OH 1525 dan OH 1526 yang berangkat hari itu (bis lainnya lebih kurang juga OH 1525, 1526, dan 1521 Intercooler) dengan karoseri Adiputro, ada PO Mahkota yang menyediakan armada Mercedes-Benz OH 1518 XBC dengan karoseri Morodadi Prima, dan ada juga PO Aneka Transport dengan armada Mercedes-Benz OH 1626 dengan karoseri Rahayu Santosa. Semuanya bagus-bagus, semuanya seatnya 2-2, dan semuanya pakai mesin Mercedes-Benz. Jawa kalah pokoknya. Saya memilih menggunakan armada PO Mahkota, karena kabar rekan-rekan bismania celebes, PO Mahkota ini yang paling banter, berangkat akhir, sampai paling awal. Prinsip saya: Ora banter ora numpak!
PO Mahkota Merdedes-Benz OH 1518 XBC yang saya naiki, saat istirahat di Bantaeng

Selain bis besar, ada juga bis-bis kecil semacam PO Paradisa yang berangkat ke Selayar, ada juga mobil-mobil plat kuning yang hanya sampai Bulukumba, tetapi dengan request khusus bisa sampai Tanjung Bira.

Saya segera naik ke PO Mahkota. Oleh calo tiket saya ditarik biaya Rp 100.000, karena hanya saya yang turun di Bira. Kalau tidak bayar full ke Selayar, mereka tidak mau. Akhirnya, demi waktu tempuh pasti, saya iyakan saja. Kalau naik mobil plat kuning memang lebih murah, tapi waktu tempuhnya menjadi tidak pasti karena banyak ngompreng di jalan. Saya pun akhirnya dapat tempat duduk di kursi 38, depan pintu belakang persis. Bis penuh sesak, bagian lorong dipenuhi karung beras yang menjadi tempat duduk. Ini bis ekonomi bro. Di Makassar bis ekonomi seatnya 2-2, pake AC, mesinnya Mercy semua broo.

Pukul 10.05. Mesin bis masih belum dinyalakan. Sementara bis lain sudah berangkat. Pukul 10.15 mesin bus baru dinyalakan. Pukul 10.20 bis baru mulai berangkat keluar dari Malengkeri. Total penumpang saat itu sekitar 65 penumpang, termasuk anak-anak. Bis merayap pelan-pelan menuju Kabupaten Gowa, sembari menaikkan beberapa penumpang di pinggir jalan. Bis makin penuh, dan hujan diluar juga makin bertambah deras. Bis yang penuh sesak ini berjalan pelan-pelan. Suasana dingin, ditambah orang sekitar berbicara dengan bahasa asing hingga saya tidak paham (mungkin bahasa Selayar), pokoknya kalau ada yang tertawa saya juga ikut tertawa. Biar nggak dirasani, anggapannya saya juga paham bahasa mereka. Saya tertidur beberapa kali. Terbangun karena bis mengklakson panjang. Rata-rata bis di jalur ini selalu klakson panjang jika ada sepeda motor di depannya. Kalau di Jawa, Klakson panjang biasanya baru ada ketika bis akan menabrak sesuatu di depannya, atau ada sepeda motor ngeyel. Makanya, bayangan saya kalau ada klakson panjang pasti akan ada kecelakaan.

Bis berhenti sebentar di Takalar untuk menaikkan penumpang. Kabupaten kecil di selatan Sulawesi Selatan yang terkenal dengan jagung yang jarang-jarang bijinya tapi enak rasanya. Tak lama kemudian bis berjalan. Di depan ada 2 bis Sumber Mas dan bis Aneka Transport yang sedang berhenti istirahat sejenak di kios jagung Takalar. Langsung saja ditinggalkan ketiga bis tersebut oleh PO Mahkota. Jarak waktu 15 menit lebih akhir, masih bisa menyelip di Takalar, catatan waktu yang cukup baik.

Bis terus berjalan dan saya kembali tertidur sesaat-sesaat. Bis penuh sesak dan saya harus memangku tas keryl yang cukup besar. Kaki pegel, badan capek. Saya kembali terjaga karena posisi duduk nggak pewe blas. Masih lumayan mending bis ekonomi di Jawa, meskipun Cuma mesin Hino tapi kaki gak begitu mentok dengan kursi.

Kanan kiri jalan hujan sudah mulai reda. Mulai nampak padang rumput menghijau di kanan kiri dengan beberapa kuda mencari makan. Rupa-rupanya sudah mulai masuk Kabupaten Jeneponto yang memang terkenal dengan kuda dan Coto Kuda nya. Jalanan lengang sekali, tetapi rusak dimana-mana. Bis masih melaju cukup kencang dengan kanan kiri dihiasi pemandangan warung Coto Kuda. Ada pemandangan menarik di salah satu ruko di tepi jalan. Masing-masing ruko memasang spanduk jualannya: Coto Kuda – Konro, Kikil, Sop Saudara – Potong Rambut Madura – Warung Kopi Rek! -,,- yang 2 awal sudah bagus sih, Jeneponto sekali. Yang 2 terakhir ini kok Surabaya banget.
PO Aneka Transport Mercedes-Benz OH 1626 Air Suspension saat istirahat di Bantaeng

Bis masih melaju dengan kencangnya. Hanya mobil-mobil plat kuning yang menyelip. Tidak ada bis besar yang menyelip kami. Pukul 14.15, kami memasuki Kabupaten Bantaeng. Bis berhenti sejenak di Rumah Makan Sop Saudara di tepi jalan utama. Penumpang turun untuk makan dan kencing. Karena tidak dapat servis makan dan karena harga makanan cukup mahal, saya memilih beli roti plastik dan teh botol saja, itupun habis Rp 11.000. Bis berhenti cukup lama, sekitar 35 menit.
PO Aneka Transport Skyliner, tampak samping di Sop Saudara Bantaeng

Setelah penumpang lengkap, bis memulai lagi perjalanan. Kali ini ditemani musik-musik semi mix. Penumpang mulai banyak yang tertidur. Bis mulai berjalan kencang, meskipun tidak maksimal karena hanya menggunakan mesin 180 HP, bodynya Morodadi yang berat lagi. Saat asyik-asyiknya jalan kencang, tiba-tiba bis berjalan terlalu ke kiri dan mengurangi kecepatannya. Di depan saya lihat tidak ada apa-apa. Tiba-tiba dari kanan, wussss melibas dengan kencang PO Sumber Mas Murni Mercy OH1525 dan langsung menghilang. Wow! Saya kecewa dengan Mahkota.

Perjalanan mulai memasuki daerah Bulukumba. Itu artinya sudah mendekati lokasi Tanjung Bira. Bis Sumber Mas yang menyelip Mahkota tadi, langsung tamblas gantian dihabisi oleh Mahkota, tak jauh dari gerbang masuk Kabupaten Bulukumba. Saya tidak jadi kecewa dengan Mahkota. Bis terus melaju kencang ke arah selatan. Jalan sejak Bantaeng hingga Bulukumba ini lebih baik daripada ketika di Jeneponto. Pemandangannya pun bagus, laut di sisi kanan dihiasi dengan beberapa rumah pembuat perahu kayu.
PO Sumber Mas Mercedes-Benz OH 1525 yang sempat kejar-kejaran dengan PO Mahkota, Lokasi Pelabuhan Bira


Jalan mulai menanjak dengan tikungan tajam dan beberapa ada turunan tajam. Ini artinya jalan mulai menyeberang dari barat ke timur, yang artinya sudah semakin dekat dengan Tanjung Bira. Meskipun medan yang demikian, bis sama sekali tidak mengurangi kecepatan. View laut mulai berpindah ke kiri, dengan beberapa perahu Pinisi yang belum jadi di pinggir pantai. Tak lama kemudian, jalanan menurun tajam dan bis berbelok ke kiri. Tibalah saya di Pelabuhan Bira, pelabuhan untuk penyeberangan dari Bulukumba ke Kepulauan Selayar.

3 komentar:

  1. mbak di T2 Juanda ada parkir inap untuk motor ya? kalo boleh tau tarifnya brp? terimakasih

    BalasHapus
  2. Ada di T2..waktu itu tarifnya 5000 sehari, tapi kurang tahu sekarang kena berapa..

    BalasHapus
  3. Ada di T2..waktu itu tarifnya 5000 sehari, tapi kurang tahu sekarang kena berapa..

    BalasHapus