Kaca Sanesipun

Selasa, 20 Januari 2015

Tour de Celebes: Menyapa Bira (Day 1 Part 2)

Waktu menunjukkan pukul 15.55 WITA. Cukup cepat perjalanannya, 5 jam 35 menit. Saya bergegas turun dari bis, dibantu oleh kernet yang sangat ramah. Bis saat itu tidak langsung menyeberang ke Selayar karena cuaca sedang buruk, angin besar (padahal saat di pelabuhan anginnya biasa saja). Ditambah lagi, kapal yang berfungsi normal hanya KM Sangke Pallanga karena KM Bontoharu sedang ada trouble mesin. Sehingga bis dan penumpang lain harus menunggu waktu tidak pasti.
Saya bergegas menuju ke ATM, karena di depan pelabuhan ada ATM. Ada ATM BNI dan BRI. Lumayan, bisa ambil uang untuk cadangan seandainya ada apa-apa. Selesai mengambil uang, saya bengong di depan gerbang karena tidak ada ojek. Beberapa blog merekomendasikan pakai ojek ke Tanjung Bira karena lumayan jauh. Saya memberanikan diri bertanya ke bapak petugas pelabuhan, dengan harapan mengerti bahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Permisi pak.”
“Iya dek, ada yang bisa saya bantu?” Jawab bapak ini dengan wajah garangnya
“Mau tanya pak, kalau mau ke obyek wisata Tanjung Bira naik apa ya pak?”
“Wah, Anda harus jalan kaki dek. Disini tidak ada ojek.”
“Arahnya kemana ya pak?”
“Iya ini, jalan ini lurus saja, nanti ada gerbangnya. Sekitar 1 km kok dek dari sini.” Jawab bapak ini sambil menunjuk jalan.
“Baik pak, terima kasih banyak. Mari pak” Saya segera berlalu dari bapak tersebut
“Eh dek, sebentar...” Bapak tadi memanggil saya kembali, lalu berkata
“Atau adek saya antarkan saja, tapi adek tunggu disini sebentar, saya urus kapal dulu. Nanti saya antar saja.”

Dengan tidak enak hati dan sedikit menolak, akhirnya saya menyetujui tawaran bapak tersebut. Dibalik wajah yang garang selalu terdapat hati yang lembut.

Setelah mengurus kapal KM Sangke Pallanga, bapak tersebut kembali menghampiri saya dengan Jupiter MX 135Lcnya dan mengantarkan saya ke hotel yang saya pilih: Hotel Salassa. Ternyata bapak ini kenal baik dengan pemilik hotel. Saya memilih hotel ini karena rekomendasi beberapa blog menyebutkan hotel ini murah, bersih, dan pemiliknya ramah. Sesampainya di depan hotel, saya ingin memberikan pengganti bensin ke bapaknya. Tetapi bapaknya menolah dan langsung pergi begitu saja. Terima kasih banyak bapak atas tumpangannya, semoga lancar segalanya!
Salassa Guest House, Lumayan nyaman dan cuma 100 meter dari pantai

Saya masuk ke hotel dan disambut dengan ramah oleh mas-mas yang menjaga hotel. Salah satu asisten pemilik hotel mungkin. Atau mungkin anak pemilik hotel. Biayanya ketika itu Rp 120.000 termasuk breakfast. Biaya dibayarkan ketika check out, bersama dengan biaya lain-lain (sewa motor/mobil, makanan tambahan, dll). Saya langsung masuk ke kamar dan beristirahat sejenak. Kamarnya cukup nyaman. Dinding dan lantainya terbuat dari kayu karena ada di lantai 2, ada kipas angin, kasurnya sudah springbed. Bau kamar juga tidak penguk, tidak apek. Saya berbaring sejenak mengistirahatkan badan yang lelah.
Istirahat dan berbaring sejenak, kasurnya empuk dan nyaman

Setelah badan agak fresh, saya berjalan keluar ke arah pantai. Dengan sendal jepit dan membawa tas kamera. Ternyata memang benar anginnya sedang kencang sekali. Melangkahkan kaki saja perlu perjuangan. Ombak juga sedang besar dan jarak pandang tidak terlalu baik. Tapi anugerah tersendiri di tengah ombak besar ini, pantai jadi terlihat bersih saat air pasang, dan warna gradasi 3 warna air laut terlihat sangat jelas. Yaa, meskipun akhirnya batal diving atau snorkelling karena ombak yang demikian ganasnya. Hanya foto-foto sejenak saja kemudian kembali ke hotel. Saya tidak kuat dengan anginnya, takut masuk angin, apalagi trip masih panjang.


 Suasana pantai sore itu, ombak pasang dan besar

Masih kurang puas dengan hanya objek pantai, saya menyewa motor ke mas-mas yang jaga hotel tadi. Cukup murah, hanya Rp 70.000 selama 24 jam, tidak termasuk bensin. Saya bertanya objek lainnya yang cukup menarik, katanya proses pembuatan perahu pinisi di dekat pelabuhan. Saya pun bergegas bergerak ke Pantai Timur Bira, ke tempat pembuatan kapal Pinisi. Kabarnya sedang ada kapal yang dalam proses building, ada yang sudah sampai proses akhir dan siap diluncurkan. Tempatnya berada di balik bukit, di tepi pantai. Jalanannya kecil dan menurun, tapi sudah di betonase. Di tempat tersebut juga terdapat mess pekerja.

Saya langsung memarkir motor di dekat pantai dan melihat-lihat kapal pinisi. Pekerja disitu menatap saya dengan tatapan asing. Saya hanya memotret-motret sedikit saja, takut kalau-kalau disitu dilarang mengambil gambar. Setelah cukup, saya pun pergi dan memantabkan diri kembali besok pagi untuk sekalian melihat sunrise dibalik Pinisi.


Kapal Pinisi sedang dalam proses

Dalam perjalanan saya menyempatkan diri mampir ke pelabuhan untuk sekedar cari makan. Wow, antriannya tambah panjang dengan mobil-mobil pribadi. Saya memilih warung di dekat gerbang masuk pelabuhan dan memilih menu Nasi Ayam dan minum air putih. Tak beberapa lama pesanan terhidang lengkap: ayam, sayur kaldu, nasi putih 1 bakul, lalapan, sambal, dan aqua gelas. Langsunglah gabungan antara sarapan, makan siang, dan makan malam ini dimulai. Nasi 1 bakul habis dan lenyap dalam sesaat. Lumayan mahal sih, Rp 20.000 untuk semua menu yang saya makan. Tapi tidak apa-apa, yang penting perut penuh.

Saya bergegas memacu motor saya ke arah Tanjung Bira. Karena hari belum beranjak gelap, meskipun sudah pukul 18.00 WITA, saya memilih menelusuri jalan-jalan tikus. Saya pilih belok ke kanan, ke arah bukit BTS. Ada gardu pandang disana, barangkali bisa mencapai sana melalui jalan tersebut. Jalannya lumayan mulus, beralaskan beton. Tapi lama kelamaan jalan membelok dan menjauhi BTS dan masuk ke daerah penuh cafe-cafe berlabel Bir Bintang. Semakin masuk ke dalam mulai nampak banyak purel-purel di kanan kiri jalan berpakaian sexy. Mungkin ini zona esek-eseknya Tanjung Bira. Daripada terlibat semakin jauh, saya akhirnya memilih putar balik dan kembali ke hotel daripada terjadi sesuatu yang tidak-tidak.


Setibanya di hotel langit sudah mulai gelap. Saya bergegas mandi menyegarkan diri, dan kemudian diakhiri dengan berbaring di tempat tidur. Tak lama kemudian mata saya terlelap setelah menyetel alarm pukul 05.00.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar